MajalahCeo.id | Medan – Banjir sering kali terjadi bukan karena bencana tapi karena perusakan lingkungan yang dilindungi kekuasaan yang korup.
Selain Cuasa Ekstrem, Lemahnya Mitigasi Bencana, Penyempitan dan pendangkalan aliran sungai, sistem drainase yang buruk serta ketidak mampuan Pemerintah dalam pengendalian dan penanganan banjir, serta Gagal dalam Tata Kelola,Tata Ruang Kota Medan sehingga warga terdampak harus menanggung penderitaan akibat banjir.
Terungkap pada saat Rapat Dengar Pendapat di Komisi 4 DPRD Kota Medan
Senin (20/10/2025), bahwa Perwakilan BWSS II, Ferry, mengakui bahwa memang terjadi penyempitan sungai akibat pembangunan dua proyek tersebut.
“Memang benar terjadi penyempitan sungai akibat pembangunan J-City dan City View. Namun perlu diketahui, pembangunan keduanya tidak pernah mendapatkan rekomendasi teknis (rekomtek) dari BWSS II. Oleh karena itu kami telah menyurati pihak J-City dan City View,” jelasnya.
Ferry menegaskan, untuk urusan penindakan terhadap bangunan yang melanggar, BWSS II tidak memiliki kewenangan hukum.
“Kalau soal penindakan terhadap bangunan-bangunan tersebut, itu ranahnya Pemko Medan,” tutupnya.
Rahmadsyah Aktifis yang tergabung dalam Mimbar Rakyat Anti Korupsi Sumatera Utara (MARAK Aunt) menilai kegagalan menangani bencana semestinya menjadi alasan kuat bagi seorang pejabat untuk mempertimbangkan mundur dari jabatannya.
Dalam kererangan Persnya dirinya menyampaikan kritik keras terhadap tanggung jawab penuh diperlukan dari pejabat yang memegang mandat pengelolaan lingkungan.
Rahmat mengaitkan kondisi ini dengan standar etika jabatan yang ia lihat diterapkan di negara lain.
“Saya membaca berita tanggal 18 November tentang kabinet Presiden Marcos di Filipina. Mereka mengalami banjir; dua menterinya mundur secara gentleman karena merasa tidak mampu mengatasi situasi itu,” katanya.
Ia menilai langkah serupa tidaklah berlebihan apabila terjadi di Indonesia, khususnya jika pejabat terkait merasa tidak mampu mengendalikan situasi yang berdampak langsung terhadap keselamatan masyarakat.
“Jadi bukan hal yang salah kalau ada menteri yang merasa tidak sanggup lalu mundur. Itu tugas yang mulia menurut saya,” tegas Rahmat.
Pernyataan itu ia sampaikan sebagai dorongan untuk mengevaluasi tanggung jawab pejabat yang ada di Kota Medan.
“1 Tumbler Hilang, Pekerja Dipecat,Di Medan 13 Korban Banjir Tak Ada Yang Di Pecat, Kok Bisa?,” ungkapnya, Minggu (7/12/2025)
Berdasarkan Informasi yang Di himpun awak media, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Medan, Yunita Sari, mengatakan sebanyak 13 orang meninggal dunia akibat terdampak banjir yang terjadi pada 27 November 2025 lalu.
“Per hari ini yang meninggal dunia itu sebanyak 13 orang. Semua karena terdampak banjir,” ucap Yunita saat dikonfirmasi Mistar, Kamis (4/12/2025).
Yunita mengatakan, saat ini pihaknya masih fokus melakukan pembersihan di area permukiman warga pascabanjir hebat yang melanda Kota Medan.
“Seperti di Kecamatan Medan Johor dan Medan Helvetia, lumpurnya masih sangat tebal sehingga warga masih harus mengungsi. Air sudah surut, namun pembersihan masih berlangsung. Saat ini kami bersama OPD lain dan pihak kewilayahan masih fokus melakukan pembersihan,” katanya.
Sementara itu, di wilayah Medan Utara, Yunita menyebut ketinggian air masih selutut orang dewasa sehingga warga masih harus mengungsi.
“Kalau di Medan Utara masih ada genangan air, namun tidak ada lagi warga yang terisolasi. Semua sudah berhasil kita evakuasi ke pengungsian,” sebutnya.
Yunita mengungkapkan, genangan air diperkirakan benar-benar surut di Medan Utara apabila dalam empat hari ke depan tidak turun hujan dan cuaca panas.
“Jika kondisinya panas, kita prediksi empat hari lagi sudah surut, mengingat Medan Utara ini daerah hilir sehingga butuh waktu bagi air untuk keluar. Namun yang pasti, fokus kita saat ini adalah pemenuhan kebutuhan warga di pengungsian, mulai dari makanan hingga kebutuhan lainnya. Kita juga terus memantau perkembangan di lapangan,” pungkasnya.
Daftar Nama Korban Meninggal Dunia
Leginem, 70 tahun, Perempuan, Islam
Domisili: Jalan Karya Sejati
Heri Silalahi, 53 tahun, Laki-laki, Islam
Domisili: Jalan Putri Hijau LK XV No. 9, Kelurahan Pulo Brayan Kota, Kecamatan Medan Barat
Ku Sun Lan, 82 tahun, Laki-laki, Buddha
Domisili: Jalan Putri Hijau LK XVI, Kecamatan Medan Barat
Irvan Aulia Siregar, 17 tahun, Laki-laki, Islam
Domisili: Jalan Putri Hijau JL No. 41A, Kecamatan Medan Barat
Nova Hermalinda, 43 tahun, Perempuan, Islam
Domisili: Jalan Pematang Pasir LK XXI, Kelurahan Tanjung Mulia Hilir
Syakila Putri Inova, 7 tahun, Perempuan, Islam
Domisili: Jalan Pematang Pasir LK XXI
Dava Sapta, 16 tahun, Laki-laki, Islam
Domisili: Jalan Kawat 6 LK XI, Kelurahan Tanjung Mulia Hilir
Dora, 25 tahun, Perempuan, Islam
Domisili: Jalan Klambir V LK I
Bonirin, 68 tahun, Laki-laki, Islam
Domisili: Andan Sari Gang Trump
Amos Karo-karo, 20 tahun, Laki-laki, Kristen
Domisili: Jalan Puskesmas
Fael Pinem, 15 tahun, Laki-laki, Kristen
Domisili: Jalan Klambir V Gang Arihta
P. Purba, 67 tahun, Laki-laki, Kristen
Domisili: Jalan Klambir V
Arman Haris, 71 tahun, Laki-laki, Islam
Domisili: Komplek BTN LK XI, Kelurahan Besar, Kecamatan Medan Labuhan.














