MajalahCeo.id I Tapteng (Sumut) – Tapanuli Tengah – Warga Desa Mela I dan II, Kecamatan Tapian Nauli, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) yang bermukim disepanjang daerah aliran sungai (DAS) mengeluhkan daerah mereka selalu kebanjiran setiap turun hujan.
Menurut mereka, banjir itu terjadi akibat sungai sudah mengalami pendangkalan pasca peristiwa banjir bandang dan tanah longsor pada 25 September 2025 yang lalu. Dan hingga saat ini belum pernah mendapat penanganan serius dari pemerintah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Akibatnya, saat hujan turun pada Kamis (1/10/2026) sekira pukul 22.00 WIB hingga Jumat (2/10/2026) tengah malam, rumah warga kembali dimasukin air banjir yang meluap dari sungai.
Warga setempat, Agnez Monika Hutagalung, mendesak agar pemerintah daerah turun untuk meninjau desa mereka yang sudah menjadi langganan banjir setiap turun hujan sehingga dapat diperoleh solusi bagaimana cara penanganannya.
“Kami mohon Pak Bupati, agar daerah kami juga diperhatikan yang selalu kebanjiran dari luapan sungai yang ada disamping rumah kami, seperti yang semalam banjir juga terjadi,” ujar Agnez didampingi warga lainnya, Jumat (2/10/2026).
Ia menuturkan, tempat mereka sekarang sudah menjadi daerah rawan banjir, sejak Nopember 2025. Sebab, muara sungai yang ada di samping rumah mereka mengalami pendangkalan dan tidak pernah mendapat penanganan serius dari pemerintah.
“Mungkin jika dihitung dalam satu bulan itu, kami mengalami banjir hampir empat kali. Apalagi ditambah rumah kami terbuat dari kayu. Jika semakin terus kena banjir, mungkin bisa-bisa rumah kami akan jadi roboh,” katanya.
Mewakili warga terdampak banjir, Agnez meminta solusi agar secepatnya dilakukan penanganannya dengan melakukan pengerukan dan pembangunan tanggul permanen sehingga rumah warga tidak kebanjiran lagi.
Selain itu, ia juga berharap agar bantuan jaminan hidup, isi hunian dan rumah rusak juga dapat segera dicairkan pemerintah, sebab masih banyak warga Desa Mela I dan II yang belum mendapatkan bantuan itu.
“Terkait bantuan, sampai sekarang sudah hampir satu tahun, kami menunggu, belum mendapatkannya. Jadi kami mohonlah agar kami diperhatikan,” ucapnya, sembari menunjuk kondisi rumahnya yang sudah mulai rusak akibat terus kebanjiran.
“Nah seperti yang abang lihat kan rumah kami terbuat dari papan. Jadi kalau semakin tiap hari-tiap hari datang banjir ya otomatis kan rumah kami yang dari papan ini bakalan roboh,” tambahnya
Menurutnya, menghadapi banjir yang berulang kali terjadi telah membuat warga di desa itu merasa sudah jenuh, was-was dan merasa tidak ada lagi kenyamanan untuk tinggal dirumah sendiri.
Apalagi, sambungnya, bagi dia sendiri yang orang tuanya sedang menderita sakit stroke, setiap terjadi banjir harus terlebih dulu menyelamatkan orang tuanya ketempat yang lebih aman.
“Bapak saya sedang mengalami stroke. Maja setiap banjir kami tidak tahu mau mengangkat bapak itu kemana. Jadi kami mohonlah bantuannya, tolonglah kami masyarakat Desa Mela I dan II ini agar diperhatikan,” tuturnya.
Ia menambahkan, sesuai informasi dari BMKG kondisi cuaca di Tapteng saat ini musim hujan, Maka itu, pemerintah diharapkan dapat segera menurunkan alat berat untuk melakukan pengorekan atau menormalisasi sungai.
“Pasalnya, hanya datang hujan selama 2 jam lokasi ini langsung kebanjiran dikarenakan muaranya sudah semakin dangkal. Turunkan alat berat untuk mengambil pasirnya, dikorek sampai habis, agar kalau hujan datang kami tidak kebanjiran lagi. Kalau bisa di tanggul,” harapnya.















Komentar