Bencana hidrometeorologis Tapanuli: Mengungkap Fakta Atau Mencari Kambing Hitam

- Jurnalis

Senin, 22 Desember 2025 - 11:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MajalahCeo.id I Tapteng (Sumut)  –  Sibabangun- bencana hidrometeorologis yang memporak-porandakan Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan, gabungan penyidik yang menjadi ritual pascabencana diturunkan untuk mengungkap penyebab bencana yang terjadi.

Gabungan penyidik yang terdiri dari unsur lintas lembaga ini melakukan investigasi mendalam, terkait temuan lautan gelondongan kayu yang memporak-porandakan 4 desa di Kecamatan Batang Toru.

Bareskrim Polri bersama Satuan Tugas Penegakan Hukum Lingkungan bergerak melakukan penyelidikan dengan memeriksa wilayah hutan rakyat pada titik KM 6–8, Jalan Teluk Nauli, tepatnya di Desa Anggoli, Kecamatan Sibabangun, Tapanuli Tengah.

Ditemukan satu perusahaan yang membuka lahan perkebunan bernama PT Tri Bahtera Srikandi (TBS). Perusahaan yang bergerak pada Budi daya kelapa sawit ini dituding menjadi penyebab terjadinya banjir bandang dan longsor.

Rakyat terheran-heran saat penyidik mempersangkakan PT TBS penyebab puluhan ribu meter kubik gelondongan kayu yang berserakan disepanjang aliran Sungai Garoga. Penyelidikan di kawasan KM 6–8, Jalan Teluk Nauli, dinilai tidak sepenuhnya membuktikan kompleksitas penyebab banjir bandang dan longsor.

Jika jenis kayu yang ditemukan di Sungai Garoga menjadi acuan, satu hal yang harus menjadi catatan, seluruh kebun rakyat yang ada di sekitar kawasan Ekosistem Batang Toru memiliki tanaman yang sama yakni, karet, durian, jengkol, dan petai.

Citra Satelit dari Sentinel-2 pada 3 Desember 2025, memetakan, 3.964 hektare ekosistem Batang Toru gundul akibat banjir dan longsor. Ekosistem Batang Toru yang terbentang dari Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah hingga Kota Sibolga ini, memiliki 67 anak sungai yang keseluruhannya mengalir ke Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan.

Temuan gelondongan kayu di sungai-sungai, mengindikasikan terjadinya deforestasi ekosistem Batang Toru yang berada di Timur Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah. Ini menegaskan, penyelidikan pada wilayah hilir atau hanya pada satu lokasi tertentu, akan mengaburkan peristiwa yang sesungguhnya.

Ingat! Banjir bandang dan longsor tidak hanya menghantam Kecamatan Batang Toru dan Muara Batang Toru, Tapanuli Selatan, tetapi juga meluluhlantakkan 20 kecamatan yang ada di Tapanuli Tengah. 43 titik bencana di Tapanuli Tengah maupun Tapanuli Selatan membuktikan jika bencana tidak hanya melanda Desa Garoga, Tapanuli Selatan.

Kondisi ini menguatkan kesimpulan bahwa kerusakan hutan di kawasan ekosistem Batang Toru yang menjadi hulu dari sungai-sungai yang mengalir di Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah, telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Aparat penegak hukum harus melakukan penyelidikan secara objektif, komprehensif, dan berbasis data ilmiah.

Memenuhi acuan ini, penyidik harus melakukan penyelidikan dari hulu hingga hilir DAS, guna mengurai penyebab struktural banjir bandang. Penyelidikan yang asal-asalan, tidak akan mampu mengungkap fakta yang sesungguhnya. Bahkan berpotensi menimbulkan pertanyaan besar di tengah-tengah masyarakat.

Rakyat juga berharap, penyelidikan yang dilakukan tidak hanya untuk memainkan skenario yang telah dirancang untuk mencari kambing hitam. Bencana yang merenggut nyawa dan merusak kehidupan puluhan ribu orang ini bukanlah peristiwa tunggal, melainkan hasil dari pola eksploitasi yang dibiarkan berlangsung selama puluhan tahun.

Penyidik harus betul-betul lepas dari intervesi “pengusaha hitam” yang selama ini mengeksplorasi hutan secara ugal-ugalan. Ketika bencana melanda, korporasi yang berlindung di balik sertifikat lengkap ini berusaha cuci tangan dan mengkambinghitamkan curah hujan.

Bahkan, sebuah skenario politik hukum yang sistematis sering dimainkan. Fokus penegakan hukum dialihkan kepada pengusaha kecil, petani dan peladang berpindah, atau penambang rakyat tanpa izin. Mereka menjadi korban sekaligus terdakwa dalam drama yang mengaburkan peran pelaku utama.(**)

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel majalahceo.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Juga

Validasi Data Keramba Jaring Apung di Waduk Jatiluhur, Dansatgas Citarum Harum: Penataan Dilakukan untuk Menjaga Kelestarian Waduk dan Keberlanjutan Mata Pencaharian Masyarakat
Gagas Gerakan “Jaga Rawat Jawa Barat”, Polda Jabar Rangkul Cipayung Plus dan BEM Berbasis Riset Akademis
Musda XII MUI Kabupaten Sukabumi Jadi Ajang Perkuat Sinergi Ulama dan Pemerintah
Satgas Citarum Harum Perketat Pengawasan Limbah Industri, Dansatgas: Aktivitas Produksi Jangan Sampai Mengorbankan Lingkungan
Satgas Citarum Harum Perkuat Kolaborasi Pentahelix Atasi Sedimentasi, Dansatgas: Pemulihan Sungai Harus Dimulai dari Hulu hingga Hilir
Police Goes To School, Kapolsek Cikalongwetan Tanamkan Karakter, Disiplin, dan Kesadaran Hukum kepada Siswa SMP Karya Pembangunan Maswati
Polda Jabar Tegaskan Komitmen Berantas Begal dan Kejahatan Jalanan, Kabid Humas: Peran Aktif Masyarakat Sangat Membantu Pengungkapan Kasus
Polri Adopsi Kurikulum OBE dan Berbasis AI dalam Pendidikan Bintara SPKT 2026

Baca Juga

Selasa, 21 Juli 2026 - 21:11 WIB

Gagas Gerakan “Jaga Rawat Jawa Barat”, Polda Jabar Rangkul Cipayung Plus dan BEM Berbasis Riset Akademis

Selasa, 21 Juli 2026 - 20:36 WIB

Musda XII MUI Kabupaten Sukabumi Jadi Ajang Perkuat Sinergi Ulama dan Pemerintah

Selasa, 21 Juli 2026 - 17:39 WIB

Satgas Citarum Harum Perketat Pengawasan Limbah Industri, Dansatgas: Aktivitas Produksi Jangan Sampai Mengorbankan Lingkungan

Selasa, 21 Juli 2026 - 17:33 WIB

Satgas Citarum Harum Perkuat Kolaborasi Pentahelix Atasi Sedimentasi, Dansatgas: Pemulihan Sungai Harus Dimulai dari Hulu hingga Hilir

Selasa, 21 Juli 2026 - 14:21 WIB

Police Goes To School, Kapolsek Cikalongwetan Tanamkan Karakter, Disiplin, dan Kesadaran Hukum kepada Siswa SMP Karya Pembangunan Maswati

Tajuk Populer

Wali Kota Mahyaruddin Salim: Pemko Tanjungbalai Segera Benahi dan Ubah Kawasan Inti Kota Terlihat Rapi, Bersih, Indah, Sehat dan Nyaman Untuk Masyarakat. 

Majalahceo.id | Tanjungbalai - Wali Kota Tanjungbalai Mahyaruddin Salim didampingi Kadis LH Andri Ginting, Kadis Perhubungan Elvandia, Camat Tanjungbalai Selatan Yudhi Irfan Lesmana, Kabid Peningkatan Kapasitas dan Keanekaragaman Hayati Dinas LH Umyl Khairiyah dan Lurah di wilayah Kecamatan Tanjungbalai Selatan meninjau langsung kondisi taman, tugu, jalan dan lampu jalan penerangan umun di kawasan inti kota Tanjungbalai, Rabu (22-7-2026).

Hari ini saya bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Perhubungan turun langsung melihat suasana dan kondisi taman kota, tugu dan lampu penerangan jalan umum dalam rangka perbaikan dan penataan Kota Tanjungbalai, kata Wali Kota Mahyaruddin.

Beliau menyampaikan, ini sekarang kami sedang melihat bagaimana kondisi dilapangan, langkah-langkah apa yang akan diambil dan lakukan seperti apa, inikan masih dititik pertama yang kita kunjungi, ini biasa kami sebut kawasan bundaran PLN, Jalan Sudirman inti kota yang menuju Titi Tabayang dan Jalan S. Parman, setelah dari titik pertama kami bergerak ke Jalan Sutomo.

Selanjutnya, dari Jalan Sutomo, disitukan ada tugu kemudian kami akan bergerak maju, ada tugu dan taman kota lagi, itu lokasinya di Jalan Cokroaminoto, dekat lapangan pasir atau Lapangan Sultan Abdul Jalil Rahmadsyah, sebutnya lagi.

Wali Kota juga mengatakan, yang pasti, apa yang kita lakukan hari ini, kita mau tata ini semua karena mau dekat 17 Agustus 2026

Daerah

Rabu, 22 Jul 2026 - 23:55 WIB