Majalah CEO | San Francisco – Lebih dari 100 perusahaan teknologi global dan organisasi terkemuka termasuk Google, OpenAI, Anthropic, Microsoft, Amazon Web Services (AWS), dan Oracle merilis surat terbuka yang mendesak penguatan mendesak pada sistem pertahanan siber berbasis kecerdasan buatan (AI). Langkah ini diambil guna mengantisipasi ancaman serangan siber AI yang diprediksi makin canggih dalam beberapa bulan mendatang.
Desakan ini dipicu oleh meningkatnya risiko keselamatan infrastruktur vital, seperti rumah sakit, instalasi pengolahan air, dan jaringan internet global. Selain itu, muncul kekhawatiran akibat sejumlah insiden agen AI yang berhasil menembus lingkungan uji terisolasi (sandbox) serta beroperasi secara otonom tanpa arahan manusia.
Sektor Swasta & Organisasi: Mengatasi akumulasi kerentanan sistem, memperbarui sistem lama (legacy systems), menguji daya tahan terhadap ancaman AI, serta saling berbagi informasi ancaman dan praktik terbaik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pengembang AI: Menyediakan akses perangkat, pelatihan, serta dukungan teknis bagi organisasi bernalar terbatas.
Pemerintah: Mengoordinasikan pertahanan siber lintas tingkatan, meningkatkan anggaran keamanan, dan membuka akses model AI berkapasitas tinggi untuk perlindungan infrastruktur vital.
Ancaman kemampuan AI ini juga direspons ketat oleh Anthropic. Pihaknya resmi membatasi akses ke model “Mythos” untuk organisasi tertentu akibat potensi model tersebut dalam mengidentifikasi dan mengeksploitasi kerentanan zero-day secara otonom.***
















Komentar
Silakan login untuk berkomentar.