Majalahceo.id | Medan – Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional adalah periode peringatan tahunan di Indonesia, dari tanggal 12 Januari hingga 12 Februari, untuk meningkatkan kesadaran, kepatuhan, dan membudayakan K3 di tempat kerja dan lingkungan lainnya, guna mencegah kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja, serta melindungi pekerja di era digitalisasi.
Rahmadsyah Aktifis yang tergabung dalam Persatuan Buruh Peduli K3 Sumatera Utara meminta Dewan K3 Propinsi Sumatera Utara mengecek seluruh Pabrik dan Gedung Tinggi di Sumatera Utara
“Kebakaran Gedung Terra Drone, Saatnya Cek Ulang Standar Keselamatan Gedung Tinggi di Sumatera Utara,” ungkapnya, Jum’at (13/12/2025)
Rahmat juga mengulas tentang Gedung Terra Drone yang Terbakar.
Rahmat menjelaskan, saat SLF (Sertifikat Layak Fungsi) diterbitkan, ada area-area yang wajib dibiarkan kosong sebagai jalur penyelamatan ketika terjadi bencana seperti kebakaran atau gempa.
Jalur evakuasi itu seharusnya tidak boleh dikunci atau dihalangi benda apa pun. Namun, kenyataan di lapangan sering kali berbeda.
Menurut Rahmat, area kosong yang semestinya menjadi jalur evakuasi justru diisi barang-barang karena terlihat seperti ruang yang tak terpakai.
Dalam beberapa kasus, pintu darurat bahkan dikunci. “Mungkin terlihat seperti ruang yang nganggur. Ada juga yang pintu daruratnya dikunci. Ke depan, kami akan lebih intensif lagi memonitor apakah standar-standar dalam SLF sudah terpenuhi di lapangan,” ungkap Rahmat
Rahmat menilai kebakaran yang menelan puluhan korban itu menunjukkan bahwa bangunan tersebut tidak memenuhi standar keselamatan. “Problem utamanya adalah kalau semuanya mentaati aturan pasti tidak terjadi. Ini kan pasti dibangun tanpa aturan,” ucap Rahmad
Rahmad juga mengatakan tata ruang dan fasilitas penyelamatan di dalam gedung sangat minim.
Gedung Terra Drone Tak Punya Fasilitas Rescue Salah satu aspek yang paling menonjol adalah ukuran tangga yang terlalu kecil, sehingga banyak karyawan tidak bisa turun menyelamatkan diri saat api membesar.
“Karena apa? Tangganya kecil banget, dan itu yang menyebabkan beberapa orang yang tidak bisa turun ke bawah,” lanjut dia.
Selain itu, ia menyoroti kurangnya akses evakuasi dan sistem keselamatan, padahal gedung tersebut digunakan untuk aktivitas berisiko tinggi, termasuk penyimpanan baterai litium untuk drone.
Saat kebakaran terjadi, para karyawan naik ke lantai atas karena api muncul dari bawah, namun justru terjebak akibat asap pekat.
“Memang problem utamanya adalah gedung tersebut tidak dipersiapkan dengan rescue kalau terjadi kebakaran,” pungkasnya.
Berdasarkan Informasi yang di himpun awak media, kebakaran dilaporkan warga kepada petugas damkar pada Selasa (9/12), pukul 12.43 WIB. Total korban tewas dari kejadian kebakaran ini berjumlah 22 orang, terdiri atas 15 orang perempuan dan 7 orang laki-laki.














