MajalahCeo.di I Tapteng (Sumut) – Kecamatan Badiri – Warga Desa Lubuk Ampolu, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) meminta pemerintah pusat menurunkan alat berat untuk memperbaiki alur sungai yang saat ini telah berpindah ke rumah penduduk,kamis 19 Februari 2026.

Akibat berpindahnya jalur sungai itu, Desa Lubuk Ampolu dikuatirkan akan terancam hilang akibat tergerus arus sungai.
Derasnya aliran Sungai Lubuk Ampolu yang menghantam desa pada Senin (16/2/2026) lalu telah membuat puluhan warga mengalami trauma mendalam.

Walau dilaporkan tidak ada korban jiwa, namun puluhan rumah mengalami rusak parah, bahkan roboh tertimpa kayu gelondongan yang terbawa arus dari hulu sungai.
Dilaporkan, sekitar 80 Kepala Keluarga (KK) kini telah mengungsi untuk berlindung dari banjir susulan di salah satu rumah ibadah tepatnya di Gereja BNKP, Desa Kebun Pisang,sebagian ke rumah keluaga sejak Selasa (17/2/2026) lalu hingga saat ini.
Daerah terisolir semakin bertambah di Kabupaten Tapteng dengan tertutupnya akses kendaraan, karena Desa Lubuk Ampolu kini harus ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 4 kilometer melewati medan yang hancur dan derasnya arus Sungai Ampolu.
Kondisi ini menjadi kelanjutan dari bencana banjir bandang pertama yang melanda kawasan tersebut pada 25 November 2025 lalu, sebab berlanjut ke kejadian bencana banjir pada tanggal 16 Februari 2026 yang lebih parah.
Banjir pertama dan kedua masih sebagian rumah warga yang rusak, namun pada peristiwa banjir ketiga ini, banyak rumah mengalami kerusakan parah dihantam terjangan kayu gelondongan yang terbawa banjir, bahkan ada yang sampai hilang terseret arus air.
Saat ini disekitar pemukiman warga telah menjadi tempat ribuan kubik tumpukan kayu gelondongan dan rumah warga telah dipenuhi lumpur.
“Sudah tiga bulan pasca banjir pertama, aliran sungai yang ada di desa ini terus berubah akibat dampak arus banjir,” ujar Khairul Tambunan, warga Dusun 1, Kamis (19/2/2026).
Kondisi saat ini, aliran sungai yang sekarang telah mengalir dari depan rumah warga, bahkan untuk menyeberangi jalan aspal bukan merupakan jalur aslinya lagi, melainkan luapan dari sungai besar.
Menurutnya, arus sungai yang membentuk jalur baru saat hujan deras kemarin membuat warga terpaksa harus bertarung nyawa menyelamatkan diri.
“Kami bersyukur bisa selamat, tapi kini sangat khawatir karena pemukiman kita langsung berada di jalur sungai yang baru,” ucapnya.
Bahkan, lanjutnya, jembatan yang menghubungkan Desa Lubuk Ampolu dengan Pagaran Honas dan Aek Bottar juga hancur hilang terseret arus banjir.
“Sekarang kita hanya bisa menyebrangi sungai dengan kayu titi seadanya yang harus ekstra hati-hati, karena kuatir roboh,” ungkap Khairul.
Warga lainnya, Helman Tampubolon mengungkapkan, bahwa warga pernah meminta kepada pemerintah agar alat berat diturunkan untuk mengeruk sungai, tapi tidak pernah terealisasi.
Belakangan setelah kejadian banjir parah baru-baru ini memang ada alat berat yang datang satu unit, tapi bahan bakarnya tidak pernah cukup, seolah-olah penanganannya tidak sungguh-sungguh.
Helman yang mengaku telah mengungsikan keluarganya ke desa seberang berharap agar Presiden Prabowo dapat turun langsung memerintahkan untuk menurunkan alat berat ke desa mereka.
“Kami berharap Pak Presiden bisa membantu agar desa kami tidak lenyap. Tolong turunkan alat berat untuk membuat tanggul dan membersihkan aliran sungai, karena dari sini juga merupakan sumber aliran menuju kawasan Lopian,” katanya.
Kepala Desa Lubuk Ampolu, Fijeaman Telambanua yang dikunjungi Anggota DPRD Tapteng, Famoni Gulo, mengaku telah pernah melaporkan permohonan normalisasi sungai sejak kejadian pertama tiga bulan lalu.
“Hal ini untuk dapat menghindari bencana lebih parah. Namun belum terlaksana permohonan itu, banjir yang lebih besar sudah datang menerjang kembali,” katanya.
Fijeaman berharap kembali dengan kejadian banjir yang lebih parah ini, pemerintah dapat menurunkan alat berat segera sebab kondisinya saat ini hanya satu jam saja turun hujan sudah langsung datang banjir besar.
“Mohon disediakan minimalnya 4 alat berat, kalau boleh lebih dari 4, saya merasa bersyukur sekali. Terus mohon di fasilitasi juga minyaknya. Biarlah kami menanggung biaya operatornya,” harapnya.
Ia menegaskan, kalau tidak segera alat berat difasilitasi, maka desa itu diperkirakan kedepannya semakin hancur dan ditinggalkan penghuninya.
Sementara itu, Anggota DPRD Tapteng, Famoni Gulo, menyampaikan harapan yang sebesar-besarnya kepada Presiden Prabowo agar mendengar jeritan warga yang terdampak bencana di Tapteng.
Menurutnya, ia telah menyurati Presiden atas keluhan masyarakat yang mengusulkan agar status bencana dijadikan sebagai bencana nasional.
“Tapi sampai saat ini usulan itu tidak terjadi. Maka harapan kita kepada pemerintah pusat supaya benar-benar memperhatikan masyarakat yang terdampak bencana ini,” katanya.
Famoni menuturkan, ia sudah melihat secara langsung di lapangan, bahwa memang Desa Lubuk Ampolu sangat butuh sekali bantuan alat berat. Bukan hanya itu, masyarakat juga sudah susah untuk mendapatkan makanan.
“Mereka harus menempuh perjalanan dari sini 4 jam, berjalan mengambil beras dan harus memikul beban itu,” ucapnya.
Famoni menegaskan seandainya bantuan itu telambat, maka ia yakin akan banyak warga yang akan meninggal di desa itu. Bisa banyak yang meninggal, bukan terkena bencana lagi, namun meninggal karena kelaparan.
“Nah sudah sama-sama kita dengar, 1 jam saja hujan di sini sungai sudah banjir. Artinya, kalau tidak segera diselesaikan ini, berarti ini sengaja untuk membunuh masyarakat yang ada di sini,” tutupnya.*RL*













