MajalahCeo.id I Tapsel (Sumut) – TAPANULI SELATAN –Sumber kayu gelondongan yang terbawa banjir bandang di Desa Garoga, Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), diduga berasal dari kawasan pembukaan lahan sawit milik sebuah perusahaan.

Kayu-kayu gelondongan itu terseret arus banjir bandang hingga mengalir ke Sungai Garoga, kemudian menyumbat jembatan, sehingga memperparah dampak banjir. Temuan ini diperoleh dari penelusuran Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipidter) Bareskrim Polri. Dalam penyelidikan, polisi menemukan sebuah aktivitas pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit oleh sebuah korporasi.
Perusahaan tersebut bernama PT Tri Bahtera Srikandi (TBS) yang berlokasi di Desa Anggoli, Sibabangun, Tapanuli Tengah. Atas temuan ini, Dittipidter Bareskrim sudah melakukan pengambilan 43 sampel kayu gelondongan dari lokasi kejadian. Sejumlah saksi dari PT TBS telah diperiksa, dan penyidik juga menggandeng ahli kehutanan, perkebunan, serta lingkungan hidup.
Atas temuan awal itu, Dittipidter Bareskrim memasang garis polisi pada dua unit ekskavator dan satu unit dozer yang berada di lokasi pembukaan lahan sawit PT TBS.
Fakta seputar PT TBS
PT TBS merupakan perusahaan perkebunan kelapa sawit yang berdiri berdasarkan Akta Pendirian Nomor 13 pada tanggal 18 Desember 2007. Perusahaan memiliki izin lingkungan dan izin usaha yang diterbitkan pada September 2024. Namun PT TBS diketahui tidak memiliki Hak Guna Usaha (HGU).
Modus Operandi
PT TBS diduga melakukan kegiatan usaha kepala sawit dengan membuka lahan seluas 277 hektare, di mana 78 haktare di antaranya telah ditanami dan kegiatan penebangan pohon berlangsung sejak Desember 2024 hingga November 2025.
Sebanyak 21,6 hektare sawit ditanam dengan kondisi kontur tanah mengalami kemiringan 30-50 derajat, sehingga dalam pelaksanaannya PT TBS membangun kelapa sawit dengan sistem terasering. PT TBS juga disebut membuat parit yang dialirkan langsung ke Sungai Garoga tanpa membangun kolam yang menjadi tempat penampungan air sebelum dialirkan ke Sungai Garoga dan dari hasil pemeriksaan, ditemukan longsoran tanah di area perusahaan.
Hasil koordinasi dengan ahli kerusakan lingkungan ditemukan kerusakan lingkungan yang dilakukan PT TBS karena tidak menaati terhadap dokumen UKP dan UKL.
Menurut ahli lingkungan, telah terjadi kerusakan lingkungan akibat ketidakpatuhan PT TBS terhadap dokumen UKP dan UKL. Polisi menduga perusahaan telah melakukan tindakan yang mengakibatkan kerusakan lingkungan secara sengaja atau lalai menyebabkan kerusakan lingkungan.
Artinya, PT TBS melakukan pembangunan kebun kelapa sawit dengan cara elevasi 30 derajat dan membuat parit yang dialirkan langsung ke Sungai Garoga. PT TBS diduga melakukan tindak pidana karena kelalaiannya dengan sengaja melakukan perbuatan kerusakan lingkungan.
Perusahaan dijerat dengan Pasal 98 atau Pasal 99 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Banjir bandang Batangtoru mengakibatkan 46 orang meninggal dunia, 28 orang hilang, 22 luka berat, dan 928 rumah warga rusak.
Jejak Asal Kayu Kayu Gelondongan Banjir Bandang Batangtoru yaitu Huta Gurgur dan Muara Sibuntuon
Dua desa bernama Huta Gurgur dan Muara Sibuntuon berada di Kecamatan Sibabangun, Tapanuli Tengah disebut-sebut sebagai titik asal kayu gelondongan yang hanyut saat banjir bandang di Batangtoru.
Data 2024 mencatat Huta Gurgur dihuni sebanyak 1.834 jiwa, sedangkan Muara Sibuntuon 1.825 jiwa.
Ditandai Sumber Bencana Banjir Bandang
Untuk menuju ke Huta Gurgur, warga biasanya melalui Jalan Sukaramai, Sibabangun. Akses alternatif Sukamakmur, kini tidak bisa tembus karena di sana terdapat sebuah Kompleks perusahaan yang bergerak di bidang kelapa sawit bernama Sago.
Sebelum memasuki ke Huta Gurgur, terlihat ada sebuah kawasan hutan yang sudah gundul yang telah ditandai dalam Google Maps sebagai “sumber bencana pembalakan hutan” dan “kayu gelondongan bekas pembalakan”, berada di wilayah Muara Sibuntuon, desa tetangga Huta Gurgur.
Pengakuan Warga
Huta Gurgur bagi masyarakat Huta Godang dan Garoga, sudah tidak asing lagi. Menurut pengakuan Sitompul, warga Huta Godang sekaligus korban banjir bandang Batangtoru, menyebut pembalakan hutan di Huta Gurgur sebagai sumber kayu gelondongan.
Kayu gelondongan yang hanyut saat banjir bandang 25 November 2025 kemarin, berasal dari hulu sungai, termasuk Huta Gurgur dan Muara Sibuntuon. Ada sekitar 150 hektare pohon yang sudah ditebangi di Huta Gurgur,” ungkap Sitompul di posko pengungsian Sopo Daganak Desa Napa, Batangtoru.
Pria yang bekerja di PLTA Batangtoru ini juga membongkar adanya praktik penebangan hutan untuk membuka lahan sawit. Kondisi di sana, katanya, hutan sudah gundul. Kayu-kayu sengaja ditebangi dan dibiarkan begitu saja.
“Informasi yang kudengar katanya untuk plasma sawit. Sudah habis pohon-pohon di sana ditebangi secara liar. Itulah yang hanyut kemarin waktu banjir bandang.” katanya.
Dari pengakuan Sitompul yang menyebut penebangan pohon untuk pembukaan lahan sawit mengerucut pada sebuah pabrik bernama Sago.
“Banyak warga yang menyalahkan Sago. Kayu-kayu gelondongan itu akibat ulah mereka. Sudah seharusnya mereka bertanggung jawab,” ujarnya.
Informasi lain menyebutkan, ada sekitar dua alat berat yang sudah disegel aparat di Huta Gurgur sebagai barang bukti dugaan pembalakan.
Kuat dugaan alat berat ini merupakan sebagai barang bukti penebangan hutan yang menjadi penyebab banjir bandang di Garoga dan Huta Godang.
Temuan Bareskrim: Kayu Disebut Sengaja Ditebang
Terungkap kayu gelondongan yang ikut tersapu banjir bandang di Desa Garoga, Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan. Kayu tersebut bukan berasal dari kayu lapuk atau akibat pohon lapuk yang tumbang seperti yang pernah disampaikan Kemenhut. Namun kayu-kayu gelondongan bekas gergaji mesin diduga hasil pembalakan liar.
Dittipidter Bareskrim Polri mengungkap telah mengambil 27 sampel kayu gelondongan yang terbawa arus banjir bandang di Garoga, Batangtoru, Tapanuli Selatan (Tapsel).
Pengambilan sampel ini dilakukan dalam rangka penyelidikan soal dugaan adanya pembalakan liar yang mengakibatkan bencana di Sumatera.
“Posko sudah didirikan 3 km dari TKP DAS (Daerah Aliran Sungai) Garoga. Di sekitar TKP ini, 27 sampel kayu telah diambil, police line terpasang,” kata Direktur Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri Brigjen Mohammad Irhamni dalam keterangannya, Selasa (9/12/2025).
Adapun sejumlah sampel kayu yang diambil ini yakni mayoritas berjenis karet, ketapang, durian, dan lainnya.
“Barang bukti kayu telah disisihkan, dispesifikasikan, dan dikategorikan oleh ahli,” tuturnya.
Hasil pemeriksaan, pihak kepolisian pun menemukan sejumlah kayu yang ditebang oleh manusia secara sengaja.
“Identifikasi kayu menunjukkan beberapa kategori, kayu hasil gergajian, kayu yang dicabut bersama akar (alat berat), kayu hasil longsor dan kayu hasil pengangkutan loader,” jelasnya.
Sehingga, lanjut Irhamni, rencana tindak lanjut atas temuan tersebut, pihaknya mengagendakan pemeriksaan terhadap perusahaan soal dugaan aktivitas land clearing atau pembukaan lahan.
“Kegiatan penyelidikan oleh tim akan dilanjutkan dengan pemeriksaan salah satu perusahaan yang berada di hulu sungai Garoga yang terindikasi adanya kegiatan landclearing oleh perusahan PT TBS tersebut,” jelasnya.
Sungai Garoga Sempat Kembali Meluap
Pada Selasa (9/12/2025), Sungai Baru di Garoga, Batangtoru, Tapanuli Selatan (Tapsel) kembali meluap. Air mulai meluap sekitar pukul 16.30 WIB. Situasi saat itu, Garoga sedang dilanda hujan deras sejak pukul 16.13 WIB.
Baru sekitar 15 menit dilanda hujan, air di sungai baru Garoga mulai meluap dan air mulai sampai ke batas jalan yang jebol. Kayu-kayu yang sebelumnya digunakan sebagai jembatan darurat ikut terseret arus dan kayu ini akhirnya diangkut alat berat untuk ditepikan agar tidak hanyut ke hilir.
Kepanikan mulai terjadi sehingga warga-warga yang sedang berteduh di posko terdekat sungai baru Garoga, lari berhamburan. Ada yang berlari hingga menaiki sepeda motor hingga mobil dan mereka menjauh ke lokasi aman ke Desa Huta Godang.
Kepala Desa Huta Godang, Admald Tampubolon menyebutkan, memang terjadi kepanikan saat meluapnya air di sungai baru Garoga.
“Memang ada kepanikan. Warga-warga yang datang dari arah Garoga berhamburan sambil bilang air naik,” katanya.
Menurutnya, penyebab meluapnya air sungai baru Garoga karena kayu-kayu gelondongan yang tersumbat di Jembatan Anggoli belum dibersihkan sehingga air mencari jalur baru dan meluap. Makanya, begitu hujan deras air di jembatan ini belum mengalir, sehingga luapannya menuju sungai baru Garoga.
“Tekniknya salah. Seharusnya kayu-kayu di jembatan yang tersumbat dibersihkan dulu,” ujarnya.
Sementara, Serka Abadi Hasibuan mengatakan, warga seharusnya waspada akan meluapnya air di sungai Garoga baru.
“Sempat ada kepanikan, tapi harus tetap tenang dan waspada. Kalau hujannya tadi masih terus turun, kemungkinan kami akan melakukan evakuasi,” ujarnya
Respons Pemerintah dan Kementerian Kehutanan
Sebelumnya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyatakan telah membentuk satuan tugas gabungan untuk menyelidiki dugaan pelanggaran atas temuan gelondongan kayu saat banjir di tiga Provinsi di Pulau Sumatera. Hal itu disampaikan usai bertemu Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni di Gedung Rupatama Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (4/12/2025) malam.
“Tentunya kami menyambut baik dan akan melakukan kerja sama dengan Menteri Kehutanan dan tim untuk membentuk satgas gabungan untuk melakukan penyelidikan terkait dengan temuan-temuan kayu yang diduga juga ini berdampak terhadap kerusakan dan terjadinya beberapa jembatan, beberapa rumah, dan juga korban jiwa yang muncul karena adanya temuan-temuan kayu yang diduga ada kaitannya dengan pelanggaran,” ucap Jenderal Sigit.
Kapolri menyebut akan terlebih dahulu melakukan pendalaman terlebih dahulu bersama-sama dengan tim. Langkah-langkah awal yang sudah dilakukan ialah menurunkan personel bersama dengan Kementerian Kehutanan.
“Bila perlu dengan satgas lain yang bisa bergabung termasuk PKH sehingga kerja tim bisa lebih cepat dan segera bisa kita infokan,” tuturnya
Jenderal Sigit menyebut dalam waktu singkat tim bakal bergerak dari hulu sampai dengan hilir guna mengungkap asal-usul gelondongan kayu tersebut.
“Khususnya di lokasi-lokasi yang memang kita dapati ada potensi-potensi yang harus kita tindaklanjuti karena memang ada dugaan-dugaan pelanggaran,” urainya.
Sementara itu, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan sesegera mungkin akan mengungkap asal muasal gelondongan kayu tersebut. Dia mengaskan bahwa Kementerian Kehutanan dan Polri sudah menyepakati MoU untuk kolaborasi menjaga hutan Indonesia.
“Kami berharap sekali lagi nanti kerjasama dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia kita bisa sesegera mungkin mengungkap dari mana asal muasal kayu tersebut dan tentu apabila ada unsur pidananya, akan kita tegakkan bersama-sama,” ucapnya.
Menurutnya, concern publik yang saat ini muncul beberapa hari pasca banjir, yaitu keingintahuan publik tentang asal-usul di mana material kayu yang terbawa banjir itu berasal.
Menhut menjelaskan data-data awal melalui penerbangan drone ke daerah-daerah terdampak sudah dilakukan. Guna mengidentifikasi anatomi kayu, Kementerian Kehutanan juga menggunakan teknologi bernama AIKO di wilayah terdampak.
“Ya mudah-mudahan ini bisa menjadi indikasi awal dengan mengungkapkan di mana asal-usul kayu itu berada,” tutupnya.














