Majalahceo.id | WASHINGTON – China mulai meninggalkan chip AI H200 buatan Nvidia dan memilih mempercepat penggunaan semikonduktor lokal, sebuah langkah yang dinilai menggagalkan strategi Amerika Serikat.
Dikutip straitstimes.com, pernyataan tersebut disampaikan Kepala Kebijakan AI Gedung Putih David Sacks, yang mengutip laporan media terbaru, (15 Desember 2025).
Pemerintahan Presiden Donald Trump sebelumnya membuka kembali izin ekspor chip H200 ke China sebagai bagian dari strategi menantang dominasi perusahaan teknologi lokal seperti Huawei. Pendekatan ini bertujuan membawa persaingan langsung perusahaan AS ke pasar China dengan menawarkan teknologi yang dianggap tidak lagi paling mutakhir.
Namun, Sacks mengungkapkan keraguannya atas efektivitas kebijakan tersebut. “Mereka menolak chip kami,” kata Sacks dalam wawancara dengan Bloomberg Tech.
“Tampaknya mereka tidak menginginkannya, dan saya pikir alasannya karena mereka menginginkan kemandirian semikonduktor.”
Penolakan ini memunculkan tanda tanya Pbesar bagi Nvidia, khususnya terkait potensi pendapatan dari pasar pusat data China.
Padahal, CEO Nvidia Jensen Huang sebelumnya menilai nilai pasar tersebut bisa mencapai US$50 miliar pada 2025, sementara analis Bloomberg Intelligence memperkirakan peluang pendapatan H200 di China sekitar US$10 miliar per tahun, jika chip itu benar-benar diserap pasar.
Nvidia menyatakan tetap bekerja sama dengan pemerintah AS terkait perizinan ekspor H200 untuk pelanggan tertentu. Perusahaan juga menilai kebijakan pembatasan ekspor selama tiga tahun terakhir justru memicu para pesaing asing Amerika dan merugikan pembayar pajak AS.
Dari pihak China, Juru Bicara Kedutaan Besar Liu Pengyu menegaskan bahwa kerja sama teknologi dan ekonomi merupakan kepentingan bersama kedua negara.
“Kami berharap AS dapat bekerja sama dengan China untuk mengambil langkah konkret guna menjaga stabilitas dan kelancaran rantai pasok global,” ujarnya.
Sikap China ini sejalan dengan langkah Beijing yang tengah menyiapkan paket insentif hingga US$70 miliar untuk memperkuat industri chip domestik.
Kebijakan tersebut menegaskan komitmen China mengurangi ketergantungan pada pemasok asing dan terus mendukung perusahaan lokal seperti Huawei dan Cambricon Technologies.
Chip H200 sendiri merupakan bagian dari generasi Hopper Nvidia, yang tertinggal sekitar 18 bulan dari teknologi terbaru. Faktor inilah yang menjadi dasar pemerintahan Trump mengizinkan ekspornya ke China. Meski demikian, Sacks menyebut China memahami kalkulasi AS tersebut.
“Apa yang Anda lihat adalah China tidak mengambilnya karena mereka ingin menopang dan mensubsidi Huawei,” kata Sacks.
“Itu bagian dari perhitungan kami, menjual chip yang bukan terbaik melainkan tertinggal.”
Hingga kini, Beijing belum secara resmi menyetujui maupun menolak impor H200, meski sebelumnya China juga telah menolak chip H20 yang lebih rendah kemampuannya. Situasi ini menunjukkan bahwa dorongan China menuju kemandirian semikonduktor semakin menguat, sekaligus mempersempit ruang bagi produsen chip AS di pasar Negeri Tirai Bambu.(**)





