Majalahceo.id | Medan – Sudah jatuh ketimpa tangga, itulah istilah yang saat ini sedang dialami warga Kota Medan dan Deli Serdang.
Amatan awak media Pasca Banjir warga merasakan antrian yang panjang di SPBU bahkan terpaksa beli pertamax karena pertalite habis.
Pertamna sepertinya menambah penderitaan rakyat, pasca banjir, bahkan ada pedagang eceran menjual Pertamax Rp 50 ribu perliternya.
Namun Pertamina mengatakan bahwa stok aman semua lancar lancar saja tapi sangat berbeda dengan fakta yang dirasakan warga.
“Stok BBM dan LPG sangat cukup, posisi stok kita cukup, sangat aman, kita ketahui dengan cuaca buruk kemarin ada sedikit gangguan dengan jalur distribusi kita, dan sekarang penyaluran ke SPBU sudah berjalan normal kembali, jadi konsumen tidak perlu khawatir,” kata Region Manager Retail Sales Pertamina Sumbagut, I Gusti Bagus Suteja, Senin (1/12/2025).
Adakah Dugan Permainan Mafia BBM??
Mafia BBM sering kali melibatkan penyalahgunaan distribusi, manipulasi harga, dan penyelipan (penyelidikan) yang tak efektif karena campur tangan penguasa. Ini bisa memperparah ekonomi rakyat, terutama di daerah terpencil yang kesulitan akses BBM bersubsidi.
Pemicu Mafia BBM & Korupsi :
1. Distribusi tak transparan: Kuota subsidi sering diselewengkan, BBM subsidi dijual mahal ke non-penerima.
2. Pengawasan lemah: Pertamina/lembaga pengawas kurang tegas, kolusi dengan oknum penguasa.
3. Hukum tak jalan: Pelaku besar jarang dihukum, kasus “hilang” di tengah jalan.
Contoh Kasus:
– Di beberapa daerah, BBM subsidi dijual ke industri (bukan rakyat), penguasa “menutup mata.
– “Mafia” di terminal BBM yang “bermain dengan kuota dan harga.
Solusi:
1. Transparansi kuota & distribusi: Lacak BBM subsidi via teknologi (digital tracking).
2. Hukum tegas: Usut tuntas, beri sanksi keras pelaku & penguasa terlibat.
4. Pengawasan independen: Badan anti-korupsi (KPK) turun tangan, audit rutin.
4. E-Pengadaa: BBM subsidi langsung ke penerima (kartu digital).














