Majalah CEO | Bandung — Kegiatan rutin Nyawang Manglayang yang digelar setiap hari Minggu di RW 06 Komplek Pasir Jati, Desa Jatiendah, Kecamatan Cilengkrang, kembali menjadi ruang berkumpulnya masyarakat untuk menikmati keindahan alam sekaligus melestarikan budaya dan kuliner tradisional Indonesia.
Berada di kawasan yang memiliki panorama alam pegunungan Manglayang yang asri, kegiatan ini bukan sekadar agenda wisata mingguan. Nyawang Manglayang telah berkembang menjadi wadah pemberdayaan masyarakat yang menghadirkan berbagai produk kerajinan lokal, kuliner tradisional, hingga edukasi sosial yang sarat nilai kebersamaan dan budaya.
Di tengah maraknya makanan dan minuman modern yang serba instan, kegiatan ini justru menghadirkan kembali jajanan khas Nusantara yang mulai jarang ditemui. Salah satu yang menarik perhatian pengunjung adalah stand Bandrek Legend Pasir Jati dan Ulen khas Jawa Barat yang menghadirkan konsep penjualan unik tanpa penjaga stand.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua RW 06, Fadjar Swatyas, yang juga menjadi penggagas konsep tersebut menjelaskan bahwa stand Bandrek Legend Pasir Jati sengaja dibuat dengan sistem pelayanan mandiri. Para pembeli dapat mengambil sendiri produk yang diinginkan, kemudian melakukan pembayaran secara tunai, penggunaan QRIS adalah salah satu bentuk modernisasi teknologi di dalam wisata kuliner tradisional.
Menurutnya, konsep tersebut bukan hanya bentuk inovasi dalam penjualan makanan tradisional, tetapi juga menjadi sarana edukasi sosial kepada masyarakat tentang pentingnya membangun budaya jujur di tengah kehidupan modern saat ini.
“Kami ingin mengedukasi masyarakat bahwa kejujuran itu harus dimulai dari hal kecil. Di stand ini tidak ada yang menjaga secara langsung, pembeli mengambil sendiri dan membayar sendiri. Ini bentuk kepercayaan sekaligus pembelajaran sosial,” ujar Fadjar saat ditemui di lokasi kegiatan.
Ia menambahkan bahwa keberadaan Bandrek Legend Pasir Jati juga menjadi bentuk kepedulian terhadap semakin berkurangnya minat masyarakat terhadap makanan dan minuman tradisional. Perkembangan zaman dan menjamurnya toko modern dinilai perlahan menggeser keberadaan kuliner warisan leluhur yang sebenarnya memiliki nilai kesehatan dan budaya yang tinggi.
“Kami prihatin melihat semakin sedikit masyarakat yang mengenal bahkan mengonsumsi jajanan tradisional. Sekarang masyarakat lebih banyak memilih makanan instan karena dianggap praktis dan modern. Padahal kuliner tradisional memiliki cita rasa, filosofi, dan manfaat kesehatan yang luar biasa,” katanya.
Bandrek sendiri dikenal sebagai minuman tradisional khas Sunda yang terbuat dari jahe dan rempah-rempah pilihan yang dipercaya mampu menghangatkan tubuh serta menjaga kesehatan. Sementara Ulen merupakan makanan tradisional berbahan dasar ketan yang menjadi pasangan khas saat menikmati bandrek.
Dalam kegiatan Nyawang Manglayang kali ini, paket Bandrek Legend Pasir Jati dan Ulen dijual dengan harga terjangkau, yakni Rp10 ribu per paket. Harga tersebut diharapkan dapat membuat seluruh kalangan masyarakat tetap bisa menikmati kuliner tradisional berkualitas.
Fadjar berharap kegiatan seperti Nyawang Manglayang dapat terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi masyarakat lainnya untuk tetap menjaga budaya lokal di tengah arus modernisasi yang semakin cepat.
“Modernisasi itu penting, tetapi jangan sampai membuat kita melupakan warisan budaya sendiri. Justru budaya tradisional harus bisa mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan identitasnya,” ungkapnya.
Selain menjadi tempat menikmati kuliner dan pemandangan alam, Nyawang Manglayang kini juga menjadi simbol semangat masyarakat Pasir Jati dalam menjaga nilai gotong royong, budaya, kejujuran, dan kecintaan terhadap produk lokal.
Melalui kegiatan sederhana namun penuh makna ini, masyarakat diajak untuk kembali mengenal, mencintai, dan melestarikan kekayaan kuliner tradisional Indonesia sebagai bagian penting dari identitas budaya bangsa.****
Sumber Berita: Ketua RW 06















