Majalah CEO | Cerpen – Di kejauhan, langit bersanding lembut dengan permukaan air yang luasnya tak bertepi. Berwarna biru pekat seperti kain sutra yang terhampar di antara bukit-bukit hijau — itulah Danau Toba, tempat legenda dan kesejukan menyatu menjadi satu.
Di sebuah desa kecil di tepian danau, tinggallah seorang kakek bernama Ompung Tua. Setiap pagi, sebelum matahari menyapa puncak bukit, ia sudah duduk di beranda rumah kayu miliknya, memandang danau yang masih tenang bagai cermin raksasa. Angin lembut membawa aroma tanah basah dan bunga-bunga liar dari Pulau Samosir yang terlihat berdiri tegak di tengah hamparan air itu.
“Danau ini bukan sekadar air,” begitu katanya kepada Cinta, cucu semata wayangnya yang selalu duduk di sampingnya. “Ia adalah hati tanah Batak. Tenang saat damai, dalam saat menyimpan rahasia, dan penuh kasih saat kita menghormatinya.”
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Suatu sore, saat langit berubah warna menjadi jingga keemasan, Cinta bertanya dengan mata berbinar, “Ompung, benarkah dulu ada petani yang menikahi putri dari danau itu?”
Ompung tersenyum, keriput di wajahnya melebar lembut. Ia menunjuk ke arah riak kecil yang menyapu pantai. “Benar, cucuku. Konon, dulu di tepi sini hiduplah seorang pemuda yang sangat rajin. Suatu hari ia menangkap seekor ikan yang sisiknya berkilauan seperti permata. Saat hendak dimasak, ikan itu berubah menjadi seorang gadis yang begitu cantik — putri yang turun dari kedalaman danau. Mereka bersumpah setia, dengan satu syarat: nama dan asal-usul sang istri tak boleh diucapkan di hadapan siapa pun.”
Angin berhembus pelan, menggoyangkan daun kelapa di sekitar mereka.
“Namun sayang,” lanjut Ompung dengan suara merendah, “suatu hari sang suami melupakan janji itu. Dalam kemarahannya ia menyebut asal-usul istrinya. Langit menggelap, air danau bergolak dahsyat. Sang istri menghilang ke dalam air, dan di tempat ia turun muncul pulau — Pulau Samosir — sebagai pelukan perpisahan yang tak pernah benar-benar berpisah.”
Cinta menatap ke tengah danau, di mana pulau itu berdiri tenang. “Apakah sang putri masih ada di dalam sana, Ompung?”
“Mungkin saja,” jawab kakek lembut. “Ia menjaga kejernihan air, kesuburan tanah, dan kedamaian hati kita. Selama kita menjaga danau dengan kasih, ia tak akan pernah benar-benar pergi.”
Matahari perlahan tenggelam, membiaskan cahaya keemasan di setiap gelombang kecil. Danau Toba berkilauan, menyimpan legenda itu di kedalamannya, selamanya — menjadi saksi bisu tentang cinta, janji, dan rasa hormat yang tak boleh diputuskan oleh waktu.
Malam pun turun, bintang-bintang mulai menampakkan diri seolah turun menyentuh permukaan air. Di tepian itu, Cinta berjanji dalam hati: ia akan selalu menjaga danau ini, sebagaimana nenek moyangnya dulu — agar kisah senandung biru ini terus hidup selamanya di hati setiap anak tanah ini.***
















Komentar
Silakan login untuk berkomentar.