MAJALAHCEO | Washington – Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan pencapaian signifikan dalam menjaga kelancaran pelayaran di Selat Hormuz. Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Minggu, 25 Oktober 2026, lembaga tersebut menyatakan bahwa lebih dari 95 persen kapal niaga yang melintasi jalur strategis tersebut berhasil berlayar dengan aman dalam beberapa bulan terakhir.
Selat Hormuz merupakan jalur maritim paling vital di dunia, tempat sekitar seperlima perdagangan minyak global melintas setiap harinya. Laksamana Brad Cooper, Komandan CENTCOM, menyampaikan angka positif tersebut saat melakukan kunjungan langsung ke jalur pelayaran tersebut.
“Kami terus berdiri bahu-membahu bersama mitra-mitra Teluk dan industri pelayaran dunia untuk memastikan jalur ini tetap terbuka,” ujar Cooper.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selama enam bulan terakhir, pasukan Amerika Serikat telah membantu lebih dari 3.000 kapal niaga melintasi Selat Hormuz dengan selamat. Sejak musim panas tahun ini, upaya bersama dengan negara-negara Teluk telah memfasilitasi ekspor lebih dari 1,5 miliar barel minyak mentah ke pasar global.
Peningkatan keselamatan ini menyusul keberhasilan operasi pembersihan ranjau laut yang ditebar oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di jalur pelayaran internasional. Sejak ranjau-ranjau tersebut dinetralisir, tingkat kepercayaan perusahaan pelayaran internasional untuk kembali menggunakan jalur utama ini terus meningkat.
Meski demikian, CENTCOM mencatat bahwa masih terjadi apa yang disebutnya agresi tidak beralasan dari IRGC terhadap kapal-kapal niaga. Beberapa insiden gangguan pelayaran masih tercatat, namun persentase kapal yang berhasil melintas tanpa hambatan kini telah mencapai lebih dari 95 persen.
Kendali atas Selat Hormuz tetap menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik Iran yang meletus pada akhir Februari 2026, menyusul serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Meskipun gencatan senjata telah disepakati dan nota kesepahaman untuk merumuskan perjanjian damai final sedang dalam proses, situasi di kawasan tersebut belum sepenuhnya stabil.
Para pengamat menekankan bahwa meskipun angka keselamatan terlihat menggembirakan, pelaku pelayaran internasional tetap perlu waspada karena status damai yang belum final berpotensi mengalami perubahan sewaktu-waktu.***

















Komentar