Majalah CEO |Bandung Barat – Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) Citarum Harum, Kolonel Infanteri Yanto Kusno Hendarto, S.H., melaksanakan peninjauan langsung terhadap sistem pengelolaan peternakan sapi perah dan pengolahan limbah kotoran hewan (kohe) di UPBS Sustainable Dairy Farm Indonesia yang menjadi mitra pemasok susu bagi PT Ultrajaya. Kegiatan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung penerapan pengelolaan lingkungan yang mendukung program pelestarian Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum.
Dalam kunjungan tersebut, Dansatgas beserta rombongan memperoleh paparan mengenai operasional peternakan, produksi susu, hingga sistem pengelolaan limbah yang diterapkan perusahaan. Pihak manajemen menjelaskan bahwa UPBS Sustainable Dairy Farm Indonesia berdiri sejak tahun 2008 dengan populasi awal sekitar 550 ekor sapi yang dikembangkan melalui teknologi inseminasi buatan. Saat ini peternakan tersebut memiliki luas lahan sekitar 60,3 hektare dengan populasi mencapai 2.800 ekor sapi, dimana sekitar 1.300 ekor merupakan sapi laktasi yang diperah setiap hari.
Produksi susu yang dihasilkan mencapai sekitar 44 ton per hari dan seluruhnya dipasok kepada PT Ultrajaya sebagai industri pengolahan susu. Dalam pengembangan kualitas ternak, UPBS juga menjalin kerja sama dengan Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang untuk memperoleh bibit dan pejantan unggul guna meningkatkan produktivitas sapi perah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain meninjau kegiatan produksi, Dansatgas Citarum Harum memberikan perhatian khusus terhadap sistem pengelolaan limbah yang diterapkan perusahaan. Pihak UPBS menjelaskan bahwa limbah peternakan dikelola melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang terintegrasi dengan sistem irigasi dan pemanfaatan kembali hasil pengolahan limbah. Limbah cair yang dihasilkan dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan lahan pertanian dan sistem flushing, sedangkan limbah padat atau kotoran hewan diolah sehingga memiliki nilai ekonomi dan manfaat bagi sektor pertanian.
Menariknya, limbah kotoran sapi juga dimanfaatkan sebagai alas tidur ternak melalui teknologi yang diadopsi dari Jerman.
Selain itu, seluruh lima laguna penampungan limbah telah dilengkapi geomembran untuk mencegah rembesan yang berpotensi mencemari lingkungan. Atas upaya tersebut, perusahaan telah memperoleh pengakuan dan dokumen PROPER dari instansi terkait di Provinsi Jawa Barat.
Dalam kesempatan tersebut, pihak pengelola menyampaikan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan populasi sapi perah adalah ketersediaan pakan hijauan. Diperkirakan setiap ekor sapi membutuhkan sekitar 100 meter persegi lahan hijauan agar kebutuhan pakannya dapat terpenuhi secara optimal.
Sementara itu, perwakilan PT Ultrajaya menjelaskan bahwa perusahaan sebagai Industri Pengolahan Susu (IPS) terus mendorong penerapan peternakan berkelanjutan (sustainable dairy farming) yang tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan. Pengelolaan limbah yang baik dinilai mampu memberikan manfaat ganda, yakni menjaga kualitas lingkungan sekaligus mendukung ketahanan pangan melalui pemanfaatan hasil olahan limbah padat dan cair.
Bahkan, limbah kotoran hewan yang telah diolah juga berpotensi dimanfaatkan untuk kegiatan reklamasi lahan bekas tambang, sebagaimana telah diterapkan di beberapa wilayah, termasuk di Bitung.
Menanggapi paparan tersebut, Dansatgas Citarum Harum Kolonel Infanteri Yanto Kusno Hendarto, S.H. menyampaikan apresiasi atas komitmen perusahaan dalam menerapkan sistem peternakan modern yang memperhatikan aspek lingkungan dan keberlanjutan.
“Pengelolaan limbah yang dilakukan di UPBS Sustainable Dairy Farm ini menunjukkan bahwa kegiatan peternakan dapat berjalan selaras dengan upaya pelestarian lingkungan. Limbah yang sebelumnya berpotensi menjadi sumber pencemaran justru diolah menjadi produk yang bermanfaat dan memiliki nilai tambah. Ini merupakan contoh yang baik bagi sektor peternakan maupun industri lainnya,” ujar Kolonel Yanto.
Menurutnya, keberadaan IPAL yang berfungsi optimal, pemanfaatan limbah cair untuk lahan pertanian, serta pengolahan limbah padat menjadi media yang bermanfaat merupakan bentuk implementasi nyata prinsip ekonomi sirkular yang mendukung Program Citarum Harum.
“Satgas Citarum Harum terus mendorong seluruh pelaku usaha agar tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan. Apa yang dilakukan UPBS dan PT Ultrajaya dapat menjadi contoh bagaimana sektor industri dan peternakan berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan, khususnya di wilayah DAS Citarum,” tambahnya.
Di akhir kunjungan, Dansatgas berharap inovasi dan pengelolaan limbah yang telah diterapkan dapat terus ditingkatkan dan menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, akademisi, maupun pelaku usaha lainnya.
Dengan sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, upaya menjaga kualitas lingkungan serta mewujudkan DAS Citarum yang bersih, sehat, dan berkelanjutan diharapkan dapat terus terwujud.***
Sumber Berita: Satgas Citarum
















