Banjir Bandang yang Menenggelamkan Desa Garoga: Peringatan Keras Tentang Runtuhnya Ekosistem Batang Toru

- Reporter

Jumat, 12 Desember 2025 - 05:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MajalahCeo.id I Tapsel (Sumut) – Anggoli – Banjir bandang yang meluluhlantakkan Desa Garoga bukan sekadar bencana alam. Namun peristiwa ini adalah peringatan keras dari alam dan peringatan yang selama puluhan tahun diabaikan karena hilangnya desa dalam sekejap, tersapu lumpur dan kayu gelondongan, menjadi bukti paling telanjang bahwa ekosistem Batangtoru sedang runtuh di depan mata.

Warga menatap puing-puing rumah mereka dengan getir, bertanya bagaimana kawasan yang dahulu teduh, hijau, dan stabil kini berubah menjadi ruang penuh kecemasan setiap kali hujan turun. Pertanyaan mereka sederhana, namun tajam:

“Sampai kapan kerusakan ini dianggap sebagai peristiwa musiman?”

Dari Harmoni Menjadi Tragedi

Dulu, masyarakat Batangtoru hidup selaras dengan alam. Sebab hutan menjadi sumber pangan, obat, air, sekaligus ruang spiritual karena ladang padi, jagung, kopi kampung, serta kebun-kebun campuran tidak hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga menjaga stabilitas Daerah Aliran Sungai (DAS) Batangtoru.

Namun harmoni itu rusak ketika deru ekskavator mulai membelah bukit, membuka hutan, dan mengantar masuk industri ekstraktif. Sehingga masyarakat yang selama puluhan tahun merawat hutan justru tersingkir oleh kekuatan modal yang memburu keuntungan jangka pendek dan Negara, alih-alih hadir sebagai pelindung, sering kali hanya menjadi penonton bahkan kadang menyediakan “karpet merah” ketika hutan ulayat berubah menjadi HGU dan konsesi industri.

Bencana Ekologis, Bukan Sekadar Hujan Deras

Ketika Desa Garoga tersapu banjir bandang, masyarakat tidak hanya kehilangan rumah. Namun mereka kehilangan pegangan hidup karena kayu-kayu besar yang meluncur seperti gelombang tsunami mengungkap akar persoalan yang selama ini coba ditutupi, yaitu :

“Pembukaan hutan berskala luas telah meruntuhkan daya serap tanah dan melemahkan fungsi hulu sungai sebagai penahan air karena ini bukan rahasia namun ini fakta yang selama ini diabaikan.”

BACA SELENGKAPNYA:  Polsek Datuk Bandar Ringkus Pelaku Curat Sebuah Rumah

Temuan mengenai 110 titik bukaan hutan di hulu Sungai Garoga karena empat di antaranya milik perusahaan besar menguatkan bahwa kerusakan terjadi secara sistemik dan sisanya tidak jelas milik siapa, tetapi semuanya merupakan bagian dari rantai penyebab tragedi.

Masyarakat pun wajar bertanya:

1. Mengapa izin bisa begitu mudah diterbitkan?
2. Mengapa penegakan hukum berjalan begitu lambat?

Sebab ketika sebuah kasus sudah naik ke tahap penyidikan namun belum menghasilkan satu pun tersangka, maka kepercayaan publik pun terkikis.

Negara Harus Hadir, Bukan Menghindar

Kemarahan warga bukan tanpa alasan dan negara seharusnya menjadi benteng perlindungan rakyat, bukan menjadi sponsor eksploitasi yang melampaui batas.

Sebab sistem perizinan yang longgar, pengawasan yang lemah, dan minimnya kajian lingkungan menunjukkan bahwa model pembangunan kita masih menjadikan masyarakat sebagai pihak yang dikorbankan seperti Desa Garoga kembali menjadi korban karena pemerintah lebih sibuk mengejar pertumbuhan ekonomi ketimbang menjamin keselamatan rakyatnya.

Batangtoru Masih Bisa Diselamatkan

Meski kerusakan besar telah terjadi, maka harapan belum padam karena Batangtoru masih dapat diselamatkan jika arah kebijakan segera diperbaiki bukan melalui retorika, tetapi melalui langkah nyata:

1. Menghentikan ekspansi industri ekstraktif di kawasan rawan.
2. Menggelar audit menyeluruh terhadap seluruh izin perusahaan.
3. Memulihkan hulu sungai melalui rehabilitasi berbasis masyarakat.
4. Menguatkan hak kelola masyarakat adat dan lokal.
5. Membangun sistem peringatan dini yang benar-benar berfungsi.

Sebab langkah-langkah ini bukan sekadar tuntutan kelompok lingkungan hidup namun ini adalah kebutuhan mendasar untuk menjamin keselamatan dan keberlanjutan hidup masyarakat Batangtoru.

Saatnya Negara Mendengarkan Alam

Desa Garoga boleh saja hilang, namun pesan yang ditinggalkannya tidak boleh ikut tenggelam. Sebab pesan itu harus menjadi pegangan karena Batangtoru pernah menjadi benteng kehidupan bagi masyarakat sekitarnya, namun benteng itu kini retak dan jika negara tidak segera bertindak tegas, maka masyarakat khawatir bahwa Desa Garoga bukan tragedi terakhir, melainkan permulaan dari bencana yang lebih besar.

BACA SELENGKAPNYA:  Usut Dan Tangkap Pungli Mengaku Pegawai Damkar dan Penyelamatan Kota Medan Modus Retribusi APAR

Jadi, dengan menyelamatkan Batangtoru bukan hanya soal memperbaiki lingkungannya namun ini adalah soal menghormati martabat sebagai warga negara dan menjamin ruang hidup yang aman bagi generasi mendatang.

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel majalahceo.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Juga

Tinjau Dua Dapur SPPG di Kecamatan Datuk Bandar, Wakil Wali Kota Tanjungbalai Pastikan Standar Higienitas dan Kualitas Produksi
Pemko Tanjungbalai Gelar Peringatan Hardiknas 2026, Wakil Wali Kota Muhammad Fadly Abdina Tekankan Pendidikan sebagai Kunci Bangsa Membangun SDM Yang Unggul, Kuat dan Tangguh
Wali Kota Tanjungbalai Bersama Forkopimda Melepas Keberangkatan 131 Jamaah Calon Haji Kloter 11 ke Asrama Haji Medan
Optimalkan Penerimaan Pajak Daerah, Wakil Wali Kota Tanjungbalai Sidak dan Cek Kepatuhan Pajak Kendaraan Dinas 
Sinergitas dan Kolaborasi Pemko Tanjungbalai Bersama BPS Serta Pelaku Usaha Sukseskan Sensus Ekonomi 2026, Data Akurat Kunci Kebijakan Tepat Sasaran
Wali Kota Tanjungbalai Hadiri Peringatan Hardiknas, Wisuda Khatam Al Qur’an Ke-XVI dan Perpisahan Santriwan/Santriwati Madrasah Alwashliyah Gading
Wali Kota Mahyaruddin Salim Buka OSN Jenjang SD/MI dan SMP/MTs se Kota Tanjungbalai Tahun 2026
Wali Kota Mahyaruddin Salim Resmikan Benayah House, Fasilitas Penginapan dan Kolam Renang Yayasan Methodist Benayah Tanjungbalai
Berita ini 16 kali dibaca

Baca Juga

Selasa, 5 Mei 2026 - 02:56 WIB

Pemko Tanjungbalai Gelar Peringatan Hardiknas 2026, Wakil Wali Kota Muhammad Fadly Abdina Tekankan Pendidikan sebagai Kunci Bangsa Membangun SDM Yang Unggul, Kuat dan Tangguh

Selasa, 5 Mei 2026 - 02:50 WIB

Wali Kota Tanjungbalai Bersama Forkopimda Melepas Keberangkatan 131 Jamaah Calon Haji Kloter 11 ke Asrama Haji Medan

Senin, 4 Mei 2026 - 22:17 WIB

Optimalkan Penerimaan Pajak Daerah, Wakil Wali Kota Tanjungbalai Sidak dan Cek Kepatuhan Pajak Kendaraan Dinas 

Senin, 4 Mei 2026 - 22:11 WIB

Sinergitas dan Kolaborasi Pemko Tanjungbalai Bersama BPS Serta Pelaku Usaha Sukseskan Sensus Ekonomi 2026, Data Akurat Kunci Kebijakan Tepat Sasaran

Minggu, 3 Mei 2026 - 20:42 WIB

Wali Kota Tanjungbalai Hadiri Peringatan Hardiknas, Wisuda Khatam Al Qur’an Ke-XVI dan Perpisahan Santriwan/Santriwati Madrasah Alwashliyah Gading

Tajuk Populer