Majalah CEO | Di alam yang melampaui batas waktu dan ruang, terjadi dialog yang mendalam antara Sang Pencipta dengan ruh yang Ia ciptakan. Dialog ini bukanlah pertukaran kata-kata seperti yang kita kenal di dunia fana, melainkan komunikasi yang bersifat ilahi, menyentuh inti eksistensi setiap ruh.
Awal Pertemuan
Ketika ruh pertama kali dibangkitkan dari sumber keesaan, Allah berfirman: “Hai ruh-Ku, aku telah menciptakanmu dari cahaya-Ku sendiri. Engkau adalah bagian dari-Ku yang tidak terpisahkan, namun diberikan kebebasan untuk mengenal dan mencintai.” Ruh dengan penuh kerendahan hati merespon: “Ya Tuhanku, aku hanya milik-Mu. Tunjukkanlah padaku jalan yang benar, agar aku tidak tersesat dalam kegelapan yang tidak Engkau ciptakan.”
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tentang Tugas dan Makna Hidup
Allah menjelaskan kepada ruh tentang tujuan penciptaannya: “Engkau akan diturunkan ke dunia yang penuh dengan ujian dan keindahan. Di sana, engkau akan mengalami cinta, kesusahan, kebahagiaan, dan pilihan. Setiap langkah yang engkau tempuh adalah cara untuk mengenal dirimu sendiri dan mengenal-Ku lebih dalam. Dunia itu bukanlah tujuan akhir, melainkan tempat untuk mengasah hati dan jiwamu.”
Ruh bertanya: “Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa tetap dekat dengan-Mu di tengah hiruk-pikuk dunia?” Allah menjawab: “Dengan mengingat-Ku dalam setiap napas, dengan berbuat kebaikan kepada sesama makhluk-Ku, dan dengan merenungi kebesaran ciptaan-Ku. Setiap kali engkau merasa terjatuh, ingatlah bahwa-Ku selalu siap menerima kembalimu dengan kasih yang tidak terbatas.”
Tentang Cinta dan Pengorbanan
“Apa itu cinta sejati, Ya Tuhanku?” tanya ruh. Allah menjawab: “Cinta sejati adalah mencintai apa yang-Ku cintai, dan mengasihi sesama dengan cara yang-Ku ajarkan. Ia tidak mengenal keegoisan atau keserakahan, melainkan penuh dengan pengorbanan dan pengertian. Cinta adalah jembatan yang menghubungkan engkau dengan-Ku dan dengan semua ciptaan-Ku.”
Ruh merenungkan kata-kata itu, lalu berkata: “Aku khawatir tidak akan mampu menjalani semua ujian yang akan datang.” Allah dengan lembut berkata: “Aku tidak akan memberikan cobaan yang melebihi kemampuanmu. Setiap kesulitan ada hikmahnya, dan di balik setiap kegelapan selalu ada cahaya-Ku yang menuntun. Percayalah pada-Ku, karena-Ku tahu apa yang terbaik untukmu.”
Akhir Dialog
Sebelum ruh diturunkan ke dunia, Allah mengucapkan: “Ingatlah dialog ini, hai ruh-Ku. Kapan pun engkau merasa tersesat, dengarlah suara-Ku yang selalu ada dalam kedalaman hatimu. Aku akan selalu menunggu kembalimu ke sisi-Ku, sebagai hamba yang telah selesai menjalani perjalanannya.”
Ruh dengan penuh kesadaran dan keyakinan menjawab: “Terima kasih Ya Tuhanku atas kasih dan rahmat-Mu yang tak terhingga. Aku akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk menjalani hidup dengan benar dan kembali kepada-Mu dengan hati yang bersih.***
















