MAJALAHCEO | JAKARTA – Dunia militer dan pemerintahan Indonesia berduka. Laksamana TNI (Purnawirawan) Widodo Adi Sutjipto, yang akrab disapa Widodo AS, meninggal dunia pada Minggu, 25 Oktober 2026.
Sosok yang dikenal sebagai Panglima TNI pertama yang berasal dari Angkatan Laut ini berpulang di usia 82 tahun. Kabar kepergiannya dikonfirmasi secara resmi oleh Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayor Jenderal TNI Muhammad Nas.
“Betul, kami semua berduka atas kepulangan beliau. Sama-sama kita doakan semoga husnul khatimah,” ujar Mayor Jenderal Nas dalam pernyataan resminya, yang turut menyampaikan belasungkawa mendalam atas wafatnya salah satu tokoh militer terkemuka di Indonesia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Jenazah almarhum dimakamkan dengan upacara militer lengkap di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, pada pukul 13.30 WIB pada hari yang sama. Upacara berlangsung khidmat dihadiri oleh jajaran petinggi TNI, perwakilan pemerintah, keluarga besar, serta rekan-rekan almarhum dari berbagai latar belakang pengabdian.
Widodo AS lahir di Boyolali, Jawa Tengah, pada 1 Agustus 1944. Ia menapaki jalan hidupnya sebagai prajurit sejak muda, saat lulus dari Akademi Angkatan Laut pada tahun 1968. Selama lebih dari tiga dekade, ia meniti karier dari jajaran bawah hingga mencapai puncak kepemimpinan tertinggi di institusi militer.
Jabatan strategis yang pernah diembannya meliputi Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) periode 26 Juni 1998 hingga 17 Juli 1999, sebelum kemudian dipercaya menjabat sebagai Wakil Panglima ABRI pada tahun 1999. Puncak kariernya tercatat sejarah ketika Presiden Abdurrahman Wahid menunjuknya sebagai Panglima TNI pada Oktober 1999 — sebuah tonggak bersejarah karena untuk pertama kalinya jabatan tertinggi di tubuh Tentara Nasional Indonesia dipegang oleh perwira dari matra Angkatan Laut. Ia menjabat hingga Juni 2002.
Setelah memasuki masa purnabakti, semangat pengabdian Widodo AS tidak berhenti. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mempercayainya memegang posisi strategis sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) selama periode 21 Oktober 2004 hingga 20 Oktober 2009. Selama lima tahun tersebut, ia memegang peranan penting dalam merumuskan dan mengoordinasikan kebijakan nasional di bidang politik, hukum, keamanan, dan pertahanan negara.
Tidak berhenti di situ, pengalaman dan wawasan strategis almarhum kembali dimanfaatkan negara saat dipercaya menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) pada periode 2009–2014, memberikan masukan-masukan berharga bagi jalannya pemerintahan.
Sepanjang hidupnya, almarhum dikenal sebagai sosok yang tenang, berwibawa, dan memiliki pandangan yang luas mengenai hubungan militer dengan masyarakat serta demokrasi di Indonesia. Kepergiannya meninggalkan jejak pengabdian yang panjang dan teladan bagi generasi penerus bangsa. Semoga almarhum diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.***

















Komentar