Laporan C4ADS: Kerja Sama Militer Rusia–China Meluas ke Produksi Senjata dan Pertukaran Teknologi Strategis

- Jurnalis

Selasa, 27 Oktober 2026 - 10:07 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🤝 Ayo Dukung Jurnalis Kritis dan Obyektif
+ Dukung

Fenomena ini terungkap dalam laporan investigasi lembaga penelitian Amerika Serikat, Center for Advanced Defense Studies (C4ADS), yang diterbitkan pada Kamis, 22 Oktober 2026. (Dok-Foto Ilustrasi)

Fenomena ini terungkap dalam laporan investigasi lembaga penelitian Amerika Serikat, Center for Advanced Defense Studies (C4ADS), yang diterbitkan pada Kamis, 22 Oktober 2026. (Dok-Foto Ilustrasi)

MAJALAHCEO | MOSKOW – Di tengah tekanan sanksi negara-negara Barat yang terus berlanjut seiring berlangsungnya konflik di Ukraina, sejumlah perusahaan industri pertahanan Rusia dikabarkan mulai memindahkan sebagian kegiatan manufaktur dan pengembangan teknologinya ke China. Langkah ini menandai pergeseran strategis yang memperlihatkan semakin besarnya ketergantungan Moskow terhadap Beijing untuk menjaga laju produksi persenjataan nasional.

Fenomena ini terungkap dalam laporan investigasi lembaga penelitian Amerika Serikat, Center for Advanced Defense Studies (C4ADS), yang diterbitkan pada Kamis, 22 Oktober 2026. Berjudul Perkawinan Karena Keperluan? Harapan dan Risiko Kerja Sama Senjata Canggih Rusia–China, dokumen tersebut menemukan bahwa hubungan pertahanan kedua negara telah berkembang jauh melampaui transaksi jual beli senjata biasa. Saat ini cakupannya meluas hingga penggunaan fasilitas produksi bersama, pertukaran teknologi strategis, serta penelitian dan pengembangan yang dilakukan secara terpadu.

Informasi ini kemudian diperkuat oleh Direktorat Utama Intelijen Kementerian Pertahanan Ukraina (GUR) pada Senin, 26 Oktober 2026. Pihak intelijen Ukraina merinci adanya 30 jenis peralatan industri buatan luar negeri yang digunakan perusahaan-perusahaan Rusia dalam produksi rudal balistik dan komponen senjata strategis. Sebagian besar peralatan tersebut diketahui berasal dari China dan kini terpasang di fasilitas-fasilitas penting milik industri pertahanan Rusia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perusahaan Mikroelektronika Mulai Beroperasi di China. Salah satu perusahaan yang menjadi sorotan utama adalah Element, kelompok usaha mikroelektronika Rusia yang memasok komponen penting bagi berbagai sektor strategis, termasuk pertahanan. Terkena sanksi Amerika Serikat sejak 2022, perusahaan ini mulai merakit cip atau sirkuit terpadu di wilayah China sejak awal tahun 2024. Hingga saat ini, Element tercatat telah mendaftarkan sedikitnya empat anak perusahaan di China dan dikabarkan sedang merekrut pengajar bahasa Mandarin bagi para karyawannya, sebuah tanda nyata bahwa operasi jangka panjang sedang direncanakan.

Pada April 2026, perusahaan yang berafiliasi dengan Element juga dikabarkan telah memperoleh hak kekayaan intelektual di bidang elektronika daya dari perusahaan China, Shijiazhuang Tonhe Electronics. Meski demikian, C4ADS menegaskan belum menemukan bukti yang cukup untuk memastikan fasilitas tersebut sudah memproduksi komponen semikonduktor dengan spesifikasi khusus untuk kebutuhan militer. Kegiatan perakitan untuk kebutuhan industri umum tidak secara otomatis berarti produksi komponen senjata.

Pabrik Mesin Presisi Jalin Kerja Sama. Selain sektor elektronik, produsen mesin perkakas presisi Rusia lainnya, StankoMashStroy, juga melirik China sebagai basis produksi baru. Pada tahun 2023, perusahaan ini mengumumkan rencana membangun fasilitas produksi mesin berteknologi CNC, peralatan krusial untuk memproduksi komponen kendaraan tempur dan sistem senjata dengan ketelitian tinggi, melalui kerja sama dengan Baoji Machine Tool Group yang beroperasi di Provinsi Shaanxi. Pemilik perusahaan telah mendaftarkan entitas lokal bernama Shaanxi Stermasi Technology, meskipun sejauh ini belum dapat dipastikan apakah jalur produksinya sudah beroperasi secara penuh.

Bukan Seluruh Industri Pindah. Para pengamat menegaskan bahwa bukti yang tersedia saat ini tidak menunjukkan seluruh industri pertahanan Rusia telah dipindahkan ke China. Yang terjadi adalah perpindahan sebagian aktivitas manufaktur yang terhambat sanksi dan meningkatnya ketergantungan terhadap pasokan mesin, komponen, serta teknologi dari luar negeri, terutama dari China. Langkah ini mungkin menjadi solusi jangka pendek untuk menjaga kelangsungan produksi senjata, namun di sisi lain memunculkan kekhawatiran tentang masa depan kemandirian teknologi militer Rusia itu sendiri.***

Follow WhatsApp Channel majalahceo.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

LINI MASA

Iran Menolak Status “Tak Perang Tak Damai” Syarat Pengakhiran Konflik Harus Dipenuhi
Pencarian Masih Berlanjut, Tujuh Orang Belum Ditemukan Pasca Gedung Runtuh di Nairobi
CENTCOM: Jalur Pelayaran Selat Hormuz Tetap Aman bagi Kapal Komersial
Prancis Memanas: 110.000 Orang Demo Protes Harga BBM dan Biaya Hidup, Bentrokan Pecah di Kota-kota Besar
Kim Jong-un Kunjungi China Jelang Peringatan Perang Korea, Lewat Jembatan Baru yang Tertunda 12 Tahun
Trump Tegaskan Akan Ambil Langkah Tegas Terhadap Iran: “Kami Sudah Muak”
Gelombang Ketegangan di Timur Tengah: Jalur Energi Diserang, Dukungan untuk Palestina, Jalur Pelayaran Terancam
IEE Series 2026 Resmi Dibuka, Hadirkan 8 Sektor Industri untuk Dorong Transformasi Berkelanjutan

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

LINI MASA

Rabu, 28 Oktober 2026 - 07:33 WIB

Iran Menolak Status “Tak Perang Tak Damai” Syarat Pengakhiran Konflik Harus Dipenuhi

Selasa, 27 Oktober 2026 - 10:07 WIB

Laporan C4ADS: Kerja Sama Militer Rusia–China Meluas ke Produksi Senjata dan Pertukaran Teknologi Strategis

Senin, 26 Oktober 2026 - 14:33 WIB

Pencarian Masih Berlanjut, Tujuh Orang Belum Ditemukan Pasca Gedung Runtuh di Nairobi

Senin, 26 Oktober 2026 - 10:49 WIB

CENTCOM: Jalur Pelayaran Selat Hormuz Tetap Aman bagi Kapal Komersial

Minggu, 25 Oktober 2026 - 10:53 WIB

Prancis Memanas: 110.000 Orang Demo Protes Harga BBM dan Biaya Hidup, Bentrokan Pecah di Kota-kota Besar

TAJUK HARI INI