Bismillahirrahmanirrahim
MAJALAH CEO | Kita sering merasa, baru saja berbuat dosa, langit langsung menjadi berat. Padahal kita tidak tahu, Allah ternyata masih menahan pena malaikat-Nya untuk kita.
Ini adalah salah satu hadits yang membuat saya langsung tersentuh saat pertama kali membacanya. Sebuah hadits yang menunjukkan betapa sabarnya Allah kepada pendosa seperti kita.
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Ath-Thabrani dalam Kitab Al-Mu’jam Al-Kabir, dan dihasankan oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّ صَاحِبَ الشِّمَالِ لَيَرْفَعُ الْقَلَمَ سِتَّ سَاعَاتٍ عَنِ الْعَبْدِ الْمُسْلِمِ الْمُخْطِئِ، فَإِنْ نَدِمَ وَاسْتَغْفَرَ اللَّهَ مِنْهَا أَلْقَاهَا، وَإِلَّا كُتِبَتْ وَاحِدَةً
“Sesungguhnya malaikat di sebelah kiri (pencatat keburukan) akan menahan penanya selama enam jam dari seorang hamba muslim yang berbuat dosa. Jika ia menyesal dan beristighfar kepada Allah dari dosa itu, maka malaikat itu tidak akan mencatatnya. Jika tidak, maka ditulis satu keburukan.” (HR. Ath-Thabrani)
Allahu Akbar. Bayangkan, satu dosa saja Allah beri jeda 6 jam.
Apa rahasia di balik penundaan 6 jam itu?
Para ulama pensyarah hadits ini menjelaskan, penundaan itu bukan karena malaikat lupa, tapi ada 3 kasih sayang besar di dalamnya:
1. ALLAH INGIN DOSA ITU TIDAK PERNAH ADA DALAM BUKU CATATANMU
Jika malaikat langsung mencatat, maka catatan itu sudah ada, walaupun nanti dihapus dengan taubat. Butuh proses.
Tapi dengan menunda 6 jam, jika kita istighfar dalam rentang itu, maka dosa itu tidak pernah ditulis sama sekali. Buku catatanmu tetap bersih, putih, seolah kamu tidak pernah melakukannya.
Ini bedanya. Bukan dihapus, tapi tidak pernah ada.
Allah berfirman:
وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ
“Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya.” (QS. Asy-Syura: 25)
Allah tidak hanya mengampuni, Dia ingin aibmu tidak tercatat.
2. ALLAH MEMBERI RUANG ANTARA BISIKAN SETAN DAN PENYESALAN HATI
Setan itu membisikkan dosa dalam satu detik. Tapi penyesalan butuh waktu. Kadang kita baru sadar setelah 1 jam, setelah shalat, setelah melihat mushaf.
Jika dicatat langsung, kita binasa karena tergesa-gesa. Maka Allah beri 6 jam sebagai jarak. Jarak antara dorongan nafsu dan kembalinya akal.
Dalam 6 jam itu, Allah menunggu, apakah hamba-Ku akan kembali? Apakah ia akan berbisik “Astaghfirullah”?
3. UNTUK MEMBEDAKAN ANTARA YANG TERGELINCIR DAN YANG MEMBANGGAKAN DOSA
Ulama berkata, orang yang langsung bangga setelah berdosa, memamerkannya di sosmed, menceritakannya sambil tertawa, maka ia tidak akan mendapat keistimewaan 6 jam ini. Malaikat akan langsung mencatat.
Tapi orang yang setelah berdosa hatinya gelisah, tidak tenang, merasa bersalah – kegelisahan itulah tanda imannya masih hidup. Untuk hati seperti itulah penundaan 6 jam ini diberikan.
Jadi, jika setelah berdosa kamu merasa tidak enak hati, itu bukan kebetulan. Itu adalah panggilan lembut dari Allah untuk segera kembali sebelum penanya jatuh.
Saudaraku…
Kita ini bukan malaikat yang tanpa dosa. Tapi Allah memberikan kita sistem yang sangat pemurah. Setiap kebaikan langsung ditulis 10 kali lipat tanpa ditunda, tapi setiap keburukan ditunda 6 jam, dan jika bertaubat tidak ditulis sama sekali.
Lalu alasan apa lagi untuk menunda taubat?
Jangan tunggu 6 jam. Saat ini juga, ketika mata baru saja salah melihat, lisan baru saja salah bicara, hati baru saja salah berprasangka, segera bisikkan:
Astaghfirullahal ‘adzim, alladzi laa ilaha illa huwal hayyul qayyum wa atuubu ilaih.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang dosanya tidak sempat tertulis karena cepatnya istighfar kita.***
Wallahu a’lam bish-shawab.
Sumber Referensi:
Kitab Al-Mu’jam Al-Kabir – Al-Imam Ath-Thabrani – No. 7765
Shahih Al-Jami’ – Syekh Al-Albani – No. 2097 (Hasan)
















Komentar
Silakan login untuk berkomentar.