Tangisan Iblis di Depan Pintu Langit

- Jurnalis

Jumat, 14 Agustus 2026 - 08:36 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🤝 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif
+ Donasi

Iblis pernah sangat dekat dengan Allah, tapi satu kesombongan membuatnya jatuh selamanya. Sedangkan manusia masih diberi kesempatan
untuk pulang. (Dok-Foto Ilustrasi)

Iblis pernah sangat dekat dengan Allah, tapi satu kesombongan membuatnya jatuh selamanya. Sedangkan manusia masih diberi kesempatan untuk pulang. (Dok-Foto Ilustrasi)

Majalah CEO | Iblis pernah menangis di malam yang sangat sunyi, tapi bukan karena takut neraka. la menangis karena tahu, ia tak bisa kembali kepada Tuhan.

Iblis pernah sangat dekat dengan Allah, tapi satu kesombongan membuatnya jatuh selamanya. Sedangkan manusia masih diberi kesempatan
untuk pulang.

Murid: “Guru, apakah benar iblis pernah menangis?”

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Guru; “Benar! Tapi tangisan itu bukan seperti tangisan
Manusia.”

Murid; “Maksudnya?”

Guru: “la tidak menangis karena takut neraka. la menangis karena sadar, pintu pulang telah tertutup baginya.”

Murid; “Bagaimana bisa, Guru? Bukankah dulu iblis ahli ibadah?”

Guru; “Dulu, sebelum manusia ada, iblis termasuk makhluk yang paling lama sujud, beribu tahun ia bersujud di langit, Namanya bahkan pernah disebut di antara para ahli ibadah. Tapi ketahuilah, satu kesombongan bisa membakar ribuan tahun sujud.”

Murid; “Kesombongan karena menolak sujud kepada Adam?”

Guru:  “Ya, Ketika Allah berkata,
“Bersujudlah kalian kepada Adam.”
Semua sujud, Langit hening, malaikat merunduk. Tapi satu makhluk berdiri tegak, dialah iblis.”

Murid: “Apa yang ia rasakan saat itu?”

Guru: “Kesombongan. la berkata dalam hatinya, “Aku dari api, dia dari tanah.”
Kalimat itu kecil di lidah, tapi berat di sisi Allah. Sejak saat itu langit yang dulu terbuka baginya, tertutup selamanya.”

Murid: “Lalu kapan iblis menangis?”

Guru: “Suatu malam di alam ghaib, Setelah ia diusir dari rahmat Tuhan. la memandang langit yang dulu ia kenal. Langit yang pernah menjadi tempat sujudnya, lalu ia menangis.”

Murid: Apa yang ia katakan?”

Guru: “Dengan suara yang hampir hilang, ia berkata, “Tuhanku.., aku mengenal-Mu lebih lama dari manusia, aku sujud kepada-Mu ribuan tahun. Mengapa satu penolakan membuatku terlaknat selamanya?”

BACA SELENGKAPNYA:  Suami yang Menjadi Syafaat Istrinya

Murid: “Apa Allah menjawabnya?”

Guru: “Tidak dengan suara yang keras,
tapi dengan ketetapan takdir. Dan iblis pun mengerti, Bukan karena sujudnya yang kurang. Tapi karena hatinya dipenuhi, “aku”.

Murid: “Aku”..?

Guru: “Ya., Dalam jalan ruhani, kata “aku” adalah tirai paling gelap. Iblis tidak jatuh karena tidak mengenal Tuhan. la jatuh karena merasa dirinya lebih mulia.”

Murid: “Lalu mengapa Allah tetap membiarkan iblis hidup?”

Guru: “Karena dunia ini adalah medan ujian. Iblis adalah bayangan yang membuat cahaya terlihat. Tanpa godaan, manusia tidak pernah tahu arti memilih Allah. Tanpa bisikan iblis, tidak ada mujahadah. Tanpa perang melawan nafsu, tidak ada wali.”

Murid: “Jadi iblis tahu dirinya hanya alat ujian?”

Guru: “Ya., Itulah sebabnya tangisannya paling gelap. Bukan karena menyesal, tapi karena sadar, takdirnya adalah menyesatkan manusia sampai akhir zaman.”

Murid: “Apakah itu tidak menyakitkan baginya?”

Guru: “Sangat,! bayangkan, pernah dekat dengan Tuhan, lalu hidup selamanya dalam kutukan, itulah luka yang tidak pernah sembuh.”

Murid: “Guru..! apakah manusia bisa bernasib seperti iblis?”

Guru: Bisa, bukan karena dosa besar, tapi karena kesombongan kecil yang dipelihara di hati. Kesombongan ilmu,
Kesombongan ibadah, kesombongan merasa lebih suci dari orang lain.”

Murid: “Jadi musuh terbesar manusia bukan iblis?”

Guru: “Bukan, Iblis hanya membisikkan, yang membuka pintu, adalah nafsu dan ego manusia sendiri.”

Murid: “Lalu apa pelajaran dari tangisan iblis itu, Guru?”

Guru: “Bahwa manusia masih punya sesuatu yang tidak dimiliki iblis, kesempatan untuk kembali. Selama napas masih ada, pintu taubat masih terbuka.”

Guru: “Maka ingatlah ini baik-baik. Iblis pernah sujud ribuan tahun, tapi jatuh karena satu kesombongan. Sedangkan manusia, meski penuh dosa, masih bisa pulang jika hatinya hancur di hadapan Tuhan.”

BACA SELENGKAPNYA:  Kapolda Jabar Buka Bazar UMKM dan Pasar Rakyat Hari Bhayangkara ke-80

Murid: “Guru..!”

Guru: “Ya..!”

Murid: “Sekarang aku mengerti, iblis menangis bukan karena neraka.”

Guru: “Lalu karena apa?”

Murid: “Karena ia tahu, manusia masih bisa pulang kepada Allah. Sedangkan dirinya, selamanya berjalan di dalam gelap takdir.”****

Follow WhatsApp Channel majalahceo.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Juga

Keutamaan Menutup Aib Seorang Muslim
Pelajaran Hidup dari Al-Qur’an: Ketabahan, Pasrah, dan Keyakinan pada Takdir-Nya
Keutamaan Menjaga Lisan
Saat Rasulullah ﷺ Diperlihatkan Surga dan Neraka
Suami yang Menjadi Syafaat Istrinya
Inilah Suami Istri Yang Saling Menyelamatkan Dari Neraka
Dialog Antara Allah Dengan Ruh
Jika Allah Maha Kuasa: Mengapa Laut Merah Tidak Terbelah Begitu Saja, Mengapa Allah Menyuruh Musa Memukul Tongkatnya?

Baca Juga

Senin, 24 Agustus 2026 - 06:13 WIB

Keutamaan Menutup Aib Seorang Muslim

Jumat, 14 Agustus 2026 - 08:36 WIB

Tangisan Iblis di Depan Pintu Langit

Rabu, 12 Agustus 2026 - 20:27 WIB

Pelajaran Hidup dari Al-Qur’an: Ketabahan, Pasrah, dan Keyakinan pada Takdir-Nya

Minggu, 26 Juli 2026 - 05:52 WIB

Keutamaan Menjaga Lisan

Kamis, 21 Mei 2026 - 06:22 WIB

Saat Rasulullah ﷺ Diperlihatkan Surga dan Neraka

Tajuk Populer