Dugaan Korupsi Atribut Sekolah, Demo DPN di Dinas Pendidikan Medan Sempat Ricuh Dihadang ‘Preman’ Dan Pegawai Menunjukkan Pantatnya

- Jurnalis

Kamis, 11 Juni 2026 - 15:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Majalahceo.id l Medan — Ratusan massa yang tergabung dalam Dewan Peduli Negeri (DPN) bersama elemen buruh, mahasiswa, dan masyarakat sipil kembali menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan. Aksi menuntut transparansi tata kelola pendidikan ini sempat diwarnai kericuhan.

Ketegangan bermula ketika seorang pria yang diduga sebagai preman muncul di tengah massa aksi. Massa mencurigai pria tersebut merupakan orang suruhan pihak dinas untuk mengintimidasi para demonstran, bahkan ada pegawai Dinas Pendidikan yang menunjukkan pantatnya ke pendemo.

Ketua Forum Pemerhati Aparatur Negara (FPAN), Reza Nasution, menyayangkan insiden tersebut. Ia menuding pihak Dinas Pendidikan sengaja membenturkan massa aksi dengan kelompok preman bermodus staf dinas.

“Dewan Peduli Negeri telah dibenturkan oleh preman Dinas Pendidikan yang mengatasnamakan staf. Tapi saat dikonfirmasi, Kabag Umum sendiri tidak mengetahui itu dari bagian apa,” ujar Reza di sela-sela aksi, Kamis (11/6/2026).

Meski mendapat intimidasi, Reza menegaskan bahwa massa aksi tidak akan mundur. Mereka berkomitmen untuk tetap bertahan di lokasi hingga mendapatkan penjelasan langsung dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Medan.

“Siapapun dan dimanapun, kami akan bertahan di sini hingga ada kepastian dan Kepala Dinas memunculkan kepalanya. Atau, kami akan langsung mendatangi Wali Kota Medan,” tegas Reza.

Ia juga meminta seluruh massa aksi untuk tetap tenang dan tidak terpancing provokasi. “Ada upaya mereka menantang dan memancing emosi demonstran. Pastikan kita terkendali, aksi kita adalah aksi damai. Jangan pancing kami dengan kegaduhan,” serunya di hadapan massa yang disambut teriakan, “Hidup buruh! Hidup mahasiswa!”

 

Dalam unjuk rasa tersebut, koalisi masyarakat sipil ini membawa tiga tuntutan utama terkait dugaan permasalahan pengadaan atribut sekolah dan karut-marut tata kelola pendidikan di Kota Medan:

1. Transparansi Penghentian Penyelidikan Korupsi Atribut Sekolah Massa mendesak Aparat Penegak Hukum (APH) membuka secara transparan dasar hukum penghentian penyelidikan perkara dugaan korupsi pengadaan atribut sekolah. Mereka meminta kejelasan apakah kesimpulan nihil kerugian negara tersebut sudah berdasarkan audit resmi BPK atau BPKP.

Selain itu, massa mempertanyakan hasil pemeriksaan terhadap pihak rekanan, yakni CV Anugerah Perdana Lestari dan CV Roya Deli. DPN menegaskan bahwa pengembalian kerugian negara tidak menghapus unsur pidana jika ditemukan perbuatan melawan hukum (Pasal 184 KUHAP & UU Tipikor). Jika ada bukti baru (novum), kasus ini harus dibuka kembali.

2. Bersihkan PPDB dari Praktik “Murid Siluman” Massa mendesak Dinas Pendidikan menjamin proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat SMP bersih dari praktik titipan, siswa “siluman”, maupun manipulasi data yang merugikan hak calon peserta didik lain.

3. Hapuskan Monopoli Penjualan Seragam Bermodus Koperasi DPN menolak keras praktik komersialisasi pendidikan melalui penjualan atribut sekolah (seragam, pramuka, dan simbol) yang diwajibkan lewat koperasi sekolah. Mereka meminta wali murid diberikan kebebasan penuh membeli seragam di luar sekolah sesuai kemampuan ekonomi mereka. “Pendidikan tidak boleh menjadi ladang bisnis yang memberatkan masyarakat,” tulis pernyataan sikap mereka.

Aksi unjuk rasa ini bergerak bersama dalam satu gelombang yang didukung oleh berbagai aliansi, antara lain KSPSI AGN SUMUT, Persatuan Buruh (PRABU), Forum Pemerhati Aparatur Negara (FPAN), Aliansi Wartawan Sumatera (AWAS), Ojol Buruh Bersatu (OBB), Serikat Nelayan dan Petani, Front Peduli Wanita, serta Dewan Mahasiswa Sumatera (DEMASU).

Hingga berita ini diturunkan, pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan belum memberikan keterangan resmi terkait tuntutan massa maupun insiden dugaan intimidasi di lapangan.

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel majalahceo.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Juga

Di Hari Sungai Nasional Tahun 2026, Pemko Medan Lakukan Pembiaran Terhadap Kejahatan City View Mempersempit Aliran Sungai Yang Berdampak Kepada Lingkungan
Wakil Bupati Tapanuli Tengah Lepas Peserta KKN VI STPK Matauli Pandan Tahun 2026
Lurah Sebut Panglong Pabrik Tenun di Kecamatan Medan Petisah “Bandel”, Bertahun – Tahun Langgar Perda, Kolega Minta Tindak Tegas
Perkuat Kelestarian Pesisir, Wakil Bupati Tapanuli Tengah Ikuti Penanaman 2.000 Bibit Mangrove dalam Latma Pacific Partnership 2026
Pemkot Medan Di Minta Tegas Tertibkan Kantor Tanpa Sertifikat Laik Fungsi
Di Momen Hari Anak Nasional Ke -42, Kolega Akan Gelar Aksi Demo Terkait Laporan Mangkrak Perdagangan Orang Anak Di Bawah Umur Di Polda Riau
Hotel Saka Dan Hotel Madani Penuh, Hamburkan Dana Desa, Kejatisu Diminta Usut Bimtek Se-Kabupaten Tapanuli Utara
Efrin Lurah Aur Kedapatan Nongkrong Di Salah Satu Kafe di Kecamatan Medan Timur Saat Jam Kerja

Baca Juga

Selasa, 28 Juli 2026 - 02:01 WIB

Di Hari Sungai Nasional Tahun 2026, Pemko Medan Lakukan Pembiaran Terhadap Kejahatan City View Mempersempit Aliran Sungai Yang Berdampak Kepada Lingkungan

Senin, 27 Juli 2026 - 16:26 WIB

Wakil Bupati Tapanuli Tengah Lepas Peserta KKN VI STPK Matauli Pandan Tahun 2026

Senin, 27 Juli 2026 - 12:52 WIB

Lurah Sebut Panglong Pabrik Tenun di Kecamatan Medan Petisah “Bandel”, Bertahun – Tahun Langgar Perda, Kolega Minta Tindak Tegas

Minggu, 26 Juli 2026 - 21:54 WIB

Perkuat Kelestarian Pesisir, Wakil Bupati Tapanuli Tengah Ikuti Penanaman 2.000 Bibit Mangrove dalam Latma Pacific Partnership 2026

Sabtu, 25 Juli 2026 - 17:23 WIB

Pemkot Medan Di Minta Tegas Tertibkan Kantor Tanpa Sertifikat Laik Fungsi

Tajuk Populer