Majalahceo.id l Medan – Peringatan Hari Ulang Tahun ke-436 Kota Medan kembali digelar dengan berbagai kegiatan seremonial bersamaan dengan Rakernas APEKSI. Namun di balik kemeriahan tersebut, muncul pertanyaan dari sebagian masyarakat: apa yang sebenarnya harus dibanggakan jika berbagai persoalan mendasar masih menjadi keluhan warga?
Banjir masih menjadi persoalan yang berulang di sejumlah kawasan setiap kali hujan turun. Infrastruktur seperti drainase, jalan, dan penerangan di beberapa wilayah masih menjadi aspirasi masyarakat. Selain itu, kualitas pelayanan publik juga terus menjadi sorotan dalam berbagai forum resmi. Aspirasi tersebut bahkan tercatat dalam laporan reses DPRD Kota Medan pada awal 2026.
Bagi masyarakat, usia Kota Medan yang telah mencapai 436 tahun seharusnya menjadi simbol kemajuan yang nyata, bukan sekadar angka. Kota yang besar seharusnya mampu menghadirkan pelayanan publik yang cepat, penataan kota yang baik, pengendalian banjir yang efektif, serta pembangunan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh seluruh warga.
Perayaan hari jadi kota tentu penting sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah. Namun, makna peringatan akan jauh lebih bernilai apabila dijadikan momentum evaluasi menyeluruh terhadap berbagai persoalan yang masih membebani masyarakat.
Pertanyaan yang kini muncul di tengah masyarakat sederhana namun mendasar: apa yang sebenarnya harus dibanggakan dari Kota Medan di usia ke-436 tahun, jika persoalan klasik seperti banjir, infrastruktur, dan pelayanan publik masih terus menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan?
Amatan awak terjadi titik banjir di Kecamatan Medan Johor dan Kecamatan Selayang, Pada dini hari, Rabu (1/7/2026)















