Majalah CEO | JAKARTA – Erupsi empat gunung api yang terjadi berdekatan dalam waktu singkat belakangan ini memicu kekhawatiran sebagian masyarakat. Namun ahli kebencanaan menegaskan bahwa peristiwa tersebut adalah hal yang wajar dan tidak saling berkaitan.
Hingga Minggu, 6 September 2026, tercatat empat gunung api di Indonesia mengalami erupsi secara serentak: Gunung Anak Krakatau, Gunung Ibu di Maluku Utara, Gunung Ile Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, dan Gunung Semeru di Jawa Timur.
Ahli kebencanaan Daryono menjelaskan dalam dialog Kompas Petang di Kompas TV pada Senin, 7 September 2026, bahwa tingginya aktivitas vulkanik ini sangat berkaitan dengan posisi geografis Indonesia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Indonesia berada di jalur Pacific Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik dan memiliki sekitar 13 persen dari total gunung api aktif di dunia,” ujarnya. “Dengan banyaknya gunung aktif yang dipantau, secara statistik wajar jika siklus erupsi beberapa gunung bertepatan pada kurun waktu yang sama.”
Pergerakan lempeng tektonik regional memberikan tekanan tambahan pada kawasan busur gunung berapi yang magmanya sudah mencapai titik jenuh.
“Hal ini memicu gunung-gunung yang magmanya memang sudah kritis dan siap meletus untuk erupsi dalam selisih waktu yang tidak jauh. Jadi ini suatu hal yang wajar dan normal,” jelas Daryono.
Ia juga menegaskan bahwa erupsi satu gunung tidak memicu atau memengaruhi gunung lainnya, meskipun terjadi hampir bersamaan. Setiap gunung api memiliki sistem magma yang mandiri.
“Setiap gunung api itu memiliki dapur magma, kedalaman, dan tekanan geologi yang tersendiri. Pipa magma Gunung Anak Krakatau misalnya, tidak terhubung dengan Gunung Semeru maupun Gunung Ibu. Erupsi satu gunung tidak otomatis memicu gunung lain di tempat yang berbeda,” tegasnya.
Meski fenomena ini dinilai wajar, masyarakat tetap diimbau untuk waspada, mengikuti informasi resmi dari PVMBG maupun BMKG, tidak menyebarkan kabar yang belum terverifikasi, serta menaati setiap imbauan pihak berwenang di sekitar kawasan gunung api. Penjelasan ini diharapkan meredam kekhawatiran berlebih sekaligus menegaskan bahwa pemantauan aktivitas vulkanik terus dilakukan secara ketat demi keselamatan masyarakat.***

















Komentar
Silakan login untuk berkomentar.