Majalahceo.id l Medan – Kenaikan harga daging ayam potong yang disebut telah menembus Rp60 ribu per kilogram kembali memantik kemarahan masyarakat. Persoalan harga yang semakin sulit dijangkau itu membuat Dewan Peduli Negeri (DPN) mendatangi Kantor Dinas Ketahanan Pangan (Ketapang) Sumatera Utara, Selasa (1/9/2026).
Rahmadsyah Ketua Aliansi Wartawan Sumatera Utara mengatakan bahwa kekecewaan publik terhadap fluktuasi harga daging ayam yang tidak wajar mencerminkan adanya hambatan besar dalam koordinasi penegakan hukum dan pengawasan tata niaga pangan.
Fenomena harga ayam yang mendadak melonjak tinggi atau justru anjlok di bawah modal peternak sering kali dicurigai akibat adanya spekulasi, manipulasi pasokan, atau praktik kartel.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Meskipun masyarakat kerap menyoroti peran Kepolisian (khususnya melalui Satgas Pangan), penanganan masalah ini di lapangan sebenarnya melibatkan pembagian wewenang yang kompleks antar-lembaga ekonomi dan hukum.
Mafia pangan adalah istilah untuk sekelompok spekulan, kartel, atau oknum pelaku usaha yang secara ilegal memanipulasi pasokan barang pokok demi meraup keuntungan pribadi.
Aktivitas mereka menyebabkan harga di tingkat konsumen melambung tinggi secara tidak wajar.
“Mafia Pangan Ayam sebabkan harga di tingkat konsumen melambung tinggi secara tidak wajar,” ungkapnya, Selasa (1/9/2016).
Mafia pangan atau kartel dalam industri ayam yang kerap dituding membuat harga daging ayam melonjak tinggi mengacu pada persekongkolan sekelompok pelaku usaha besar (integrator) yang mengendalikan pasokan dan mempermainkan harga dari hulu hingga hilir.
Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dan Kementerian Pertanian berulang kali menyoroti beberapa modus utama yang dilakukan oleh para pemain besar ini:
Modus yang Dilakukan Mafia/Kartel Ayam
Pengaturan Stok Indukan (Parent Stock):
Perusahaan-perusahaan besar melakukan kesepakatan ilegal untuk melakukan afkir dini (pemusnahan) indukan ayam secara massal.
Tujuannya adalah membatasi pasokan bibit anak ayam atau Day Old Chicken (DOC) di pasar.
Saat DOC langka, harganya melonjak, sehingga biaya beternak ikut meroket dan berujung pada mahalnya daging ayam di tingkat konsumen.
Permainan Rantai Distribusi (Middleman/Tengkulak):
Terjadi disparitas atau perbedaan harga yang sangat tinggi antara harga di tingkat peternak (hulu) dan harga di pasar tradisional (hilir).
Oknum distributor besar kerap menahan pasokan atau mengambil margin keuntungan yang tidak wajar memanfaatkan momen tingginya permintaan.
Monopoli Pasar dari Hulu ke Hilir:
Perusahaan integrator besar menguasai pasokan pakan, obat-obatan, pembibitan, hingga jaringan pemotongan ayam.
Hal ini membuat peternak mandiri/kecil terhimpit karena tidak memiliki kekuatan untuk menentukan harga.
Faktor Pendukung Lain di Luar Mafia
Selain faktor permainan kartel, melambungnya harga ayam di pasar juga dipicu oleh beberapa kondisi nyata di lapangan:
Lonjakan Permintaan: Peningkatan permintaan masyarakat akibat beberapa momentum seperti perayaan hari besar nasional keagamaan, serta berjalannya program pemenuhan gizi berskala besar seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).
Tingginya Biaya Pakan: Komponen pakan (terutama jagung dan bungkil kedelai impor) menyumbang hingga 70% biaya produksi.
Jika harga bahan baku pakan naik, peternak terpaksa menaikkan harga jual agar tidak bangkrut.
Pemerintah melalui Kementerian Dalam Negeri dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus dikerahkan untuk melakukan sidak langsung ke gudang-gudang distributor guna memutus rantai distribusi yang tidak sehat ini.
















Komentar
Silakan login untuk berkomentar.