Majalahceo.id l Medan – Lonjakan harga daging ayam yang meroket tajam hingga menembus kisaran Rp54 ribu per kilogram di berbagai daerah memicu kembali sorotan tajam terhadap tata kelola pangan dan dugaan adanya permainan mafia atau kartel pangan.
Rahmadsyah mengatakan bahwa Negara Kalah dengan Mafia Kartel Pangan sehingga membuat emak emak menjerit harga ayam mencapai Rp 54 ribu perkilo.
“Kemana TPID, kemana satgas Pangan, kemana pilhak kepolisian, kemana Lembaga Perlindungan Konsumen, kemana KPPU, apakah negara kalah dengan Mafia Kartel Pangan,” ungkapnya, Sabtu (12/9/2026)
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Isu penguasaan jalur distribusi oleh segelintir spekulat masih menjadi tantangan besar yang dihadapi konsumen maupun peternak mandiri.
Berikut adalah analisis komprehensif mengenai kondisi pasar, indikasi permainan kartel, serta faktor pendorong utama kenaikan harga saat ini:
1.Indikasi Permainan Kartel dan Mafia PanganKecurigaan masyarakat dan pengamat ekonomi mengenai adanya “tangan-tangan tidak terlihat” didasarkan pada beberapa fenomena berulang:
Ketimpangan Margin Pendapatan: Terdapat jurang harga yang sangat lebar antara tingkat peternak (hulu) dan pasar tradisional (hilir).
Sering kali harga ayam hidup (livebird) di peternak ditekan sangat rendah, namun harga daging ayam di pasar tetap melambung tinggi.
Selisih keuntungan besar ini diduga dinikmati oleh jaringan broker atau perantara besar.
Struktur Pasar Oligopoli:
Industri perunggasan nasional sebagian besar dikuasai oleh segelintir perusahaan integrator besar terintegrasi (dari pakan, bibit/DOC, hingga budidaya). Kondisi ini memberi mereka kekuatan besar untuk mendikte pasokan dan harga di pasar.
Respons Penegakan Hukum: Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dan Satgas Pangan Polri terus didorong oleh berbagai pihak seperti pedagang pasar (INKOPPAS) untuk membongkar transparansi struktur biaya dari ujung ke ujung guna memotong rantai distribusi yang tidak sehat.
2.Faktor Penyebab Lain di Lapangan
Selain faktor spekulasi dan kartel, menteri perdagangan dan asosiasi pedagang juga mengidentifikasi beberapa pemicu teknis:
Faktor Pemicu
Dampak terhadap Harga Ayam
Kenaikan Biaya Produksi HuluHarga bibit ayam (Day Old Chicken/DOC) dan pakan unggas yang mahal otomatis mendongkrak Harga Pokok Produksi (HPP) di tingkat peternak.
Peningkatan Permintaan Besar
Pasokan ayam di pasar mengalami pergeseran karena sebagian besar diserap untuk memenuhi kebutuhan program sosial berskala besar, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Tren GlobalBadan Pangan Dunia (FAO) mencatat bahwa pasokan daging global, termasuk unggas, mengalami pengetatan yang memicu tren kenaikan harga pangan hewani di berbagai negara.
Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah Perindustrian dan Perdagangan (Diskop UKM Perindag) Kota Medan, Hendra Ridho Gunawan Siregar, menegaskan pihaknya terus berupaya menekan harga daging ayam di Kota Medan.
“Berbagai upaya sudah kita lakukan. Bukan hanya melakukan peninjauan ke pasar-pasar dan pasar murah, tapi juga upaya lainnya,” ucap Hendra, Sabtu (12/9/2026).
Dikatakan Hendra, untuk mengatasi mahalnya harga daging ayam harus dilakukan mulai dari hulu sampai hilir.
“Dengan begitu permasalahannya bisa diidentifikasi. Alhamdulillah, kita sudah temukan beberapa permasalahan yang terjadi dan disinyalir menjadi penyebab tingginya harga daging ayam,” katanya.
Hendra menjelaskan, salah satu penyebab mahalnya harga daging ayam di Kota Medan karena panjangnya pendistribusian mulai dari peternak hingga ke meja-meja pedagang daging ayam di pasar-pasar tradisional.
“Panjangnya rantai pasok inilah yang membuat harga daging ayam menjadi tinggi di tingkat pedagang eceran,” jelasnya.
Berdasarkan penelusuran pihaknya, Hendra menyebut bahwa peternak menjual ayam dengan harga di bawah Rp30 ribu/kg. Namun, harga daging ayam yang dijual di meja-meja pedagang di pasar-pasar bisa mencapai Rp54 ribu/kg.
“Itu sudah kita cek ke produsen dan menjadi salah satu kunci permasalahannya. Kalau pendistribusiannya dapat diperpendek, itu akan lebih efektif dan efisien,” sebutnya.

















Komentar
Silakan login untuk berkomentar.