“Dengan dibangunnya tembok salah satu perumahan elit, pemukiman kami jadi sering banjir. Habis itu tanah di samping rumah kami mengalami abrasi atau longsor. Kami demo-demo ini sudah lama, tapi tidak pernah didengar,” ujarnya.
Imah mengatakan, sebelum tembok tersebut dibangun, banjir tidak terjadi sesering sekarang. Menurut dia, banjir sebelumnya hanya terjadi sekitar 10 tahun sekali. Namun kini, banjir disebut menjadi persoalan tahunan yang mengancam rumah warga.
“Waktu kami ke kantor DPR, katanya tembok itu mau dibongkar. Tapi ternyata sampai detik ini tembok itu belum juga dibongkar,” keluhnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia berharap pemerintah membongkar tembok tersebut atau membangun tanggul di sepanjang bantaran sungai dekat permukiman warga agar rumah mereka tidak kembali terendam. Bukan Bentuk Penghinaan.
Warga lainnya, Manalu, mengatakan aksi pengibaran bendera setengah tiang dilakukan secara spontan sebagai bentuk kekecewaan kepada pemerintah. Ia menegaskan aksi tersebut bukan bentuk penghinaan terhadap negara maupun bendera Merah Putih.
“Pengibaran bendera setengah tiang itu bukan maksud kami untuk menghina. Bukan menghina negara ini, bukan. Kami cuma menyampaikan keluhan kami sama pemerintah kenapa diabaikan masyarakat di sini,” ujar Manalu.
Menurut Manalu, sedikitnya 15 emak-emak ikut dalam aksi tersebut. Ia mengatakan warga tetap menghormati bendera Merah Putih dan aksi itu semata-mata untuk menyampaikan keresahan mengenai banjir serta pembangunan tembok di sekitar permukiman.
“Itulah keluhan kami. Kami hormat tentunya dengan bendera merah putih. Kalau yang lain-lain (unsur kebencian) tidak ada. Murni dari hati kami untuk mengutarakan kekecewaan kami terhadap pemerintah masalah banjir dan pembangunan tembok perumahan di seberang sungai,” katanya.















