30 Hari Pasca Bencana Alam Kota Lintang Bawah Masih “Babak Belur”, Birokrasi Sibuk Retorika dan Menebar Narasi

- Jurnalis

Jumat, 26 Desember 2025 - 01:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Majalahceo.id | Medan – 30 hari pasca bencana alam Kota Lintang Bawah masih jauh dari kata pulih, bantuan Negara masih berbentuk Tenda, sedangkan Tong & Air bersih dan makan murni dari Relawan

Lasso bersama Tim Relawan media investigasicare.id mengatakan bahwa bahkan beberapa orang yang berhasil kami wawancarai dengan tegas mengatakan “Hanya dari Relawan lah yang sejengkal ini teratasi/ jika tidak dibantu makan kami oleh Relawan, mungkin kami sudah mati” 99% mutlak bantuan dari Relawan tuk nyambung hidup mereka hingga saat ini.

Tampak Tim Relawan media investigasicare.id memberikan bantuan kepada korban bencana alam Kota Lintang.

Sebelumnya, Banjir yang menerjang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akhir 2025 tidak sekadar peristiwa alam, melainkan tragedi sistemik yang diperparah oleh birokrasi sibuk retorika.

Lebih dari 25.000 rumah terendam, 315 korban jiwa tercatat, ribuan anak terputus sekolah, dan kerugian ekonomi diperkirakan mencapai Rp 7,8 triliun.

Di tengah itu, pejabat berkeliling, berpose, menggelar jumpa pers, membangun narasi kesiapsiagaan, sementara bantuan dasar: air bersih, makanan, obat-obatan, terlambat atau tersasar.

UU No. 24 Tahun 2007 mewajibkan negara menetapkan status bencana nasional bila kapasitas daerah terlampaui, mengkoordinasikan lintas kementerian, dan memobilisasi sumber daya. Nyatanya, indikator bencana terpenuhi: sungai meluap, akses jalan lumpuh, sekolah dan masjid dijadikan pengungsian.

Status Bemcana nasional tak diumumkan. Koordinasi tetap berdiam di meja rapat, sementara warga berjuang di genangan.

Pejabat melakukan “wisata bencana”: berfoto tersenyum, melambaikan tangan, mengunggahnya sebagai bukti empati. Di lapangan, dapur umum tertunda, relawan kewalahan, dan distribusi logistik seperti mengandalkan keberuntungan. Rakyat menjadi objek citra, bukan subjek perlindungan.

Menebar Narasi
Tragedi moral dan politik tersaji jelas. Ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal, anak-anak putus sekolah, komunikasi lumpuh, dan kerugian miliaran rupiah menguap.

Semua terulang setiap tahun: banjir tahunan yang seharusnya dicegah melalui perencanaan tata ruang, mitigasi hulu, dan penguatan sistem drainase. Hutan gundul, alih fungsi lahan, dan pengabaian mitigasi struktural memperburuk situasi, sementara pejabat sibuk merancang narasi kesiapsiagaan.
Teknologi satelit dan data curah hujan sudah mampu memprediksi potensi bencana, namun mitigasi setengah hati: tanggul lemah, pompa air tidak cukup, peringatan dini terlambat.

Negara menunggu rakyat terendam untuk membuktikan kewenangan birokrasi.
Setiap banjir menjadi pertunjukan absurd: hukum ada, protokol ada, undang-undang ada, tetapi eksekusi minim. Aparat sibuk mengulang jargon kesiapsiagaan; retorika menjadi legitimasi, bukan penyelamatan.

Banjir bukan sekadar tragedi hidrometeorologi, tetapi tragedi moral dan politik: rakyat bertahan di lumpur dan air, negara sibuk menandatangani surat keputusan dan menyiapkan pidato.
Tanpa keberanian mengambil keputusan nyata, koordinasi cepat, dan eksekusi lapangan yang tegas, pertanyaan sama selalu muncul: siapa yang benar-benar bertanggung jawab?

Retorika tidak menyelamatkan nyawa; retorika hanya mengeringkan reputasi. Rakyat tetap basah kuyup, menunggu negara membuktikan fungsi konstitusionalnya, bukan sekadar menebar narasi.

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel majalahceo.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Juga

Ketua DEKRANASDA Tapanuli Tengah Hadiri Syukuran HUT ke 46 DEKRANAS Tahun 2026 di Makassar
Warga Gg Palem Medan Polonia Tergenang Banjir Di Saat Lurah Dan Camat “Bobok Cantik’ di The Hill Sibolangit
Ratusan Lurah Dan Camat Buat Kegiatan Di The Hill Sibolangit Jadi Beban APBD Kota Medan Di Saat Efisiensi Anggaran dan Rakyat Lagi Susah
Efrin Lurah Aur Di Duga Di Lindungi Rico Waas, The Hill Sibolangit, Bersenang – Senang Di Atas Penderitaan Kepling Yang Di Pungli
DPP SATU BETOR Menyerahkan Jum’at Barokah Ke Panti Asuhan AL-KAHFI
Bupati Tapanuli Tengah Lantik 71 Kepala Sekolah: Tekankan Inovasi, Kebersihan, dan Pengelolaan Dana BOS
Gali Potensi Ekonomi Biru, Bupati Tapanuli Tengah Dorong Sinergi Strategis Bersama STPK Matauli
Tak Terdaftar Di List Humas, Wartawan Tak Bisa Meliput Di PRSU 2026 Di Kota Medan

Baca Juga

Sabtu, 11 Juli 2026 - 19:09 WIB

Ketua DEKRANASDA Tapanuli Tengah Hadiri Syukuran HUT ke 46 DEKRANAS Tahun 2026 di Makassar

Sabtu, 11 Juli 2026 - 12:35 WIB

Warga Gg Palem Medan Polonia Tergenang Banjir Di Saat Lurah Dan Camat “Bobok Cantik’ di The Hill Sibolangit

Sabtu, 11 Juli 2026 - 10:32 WIB

Ratusan Lurah Dan Camat Buat Kegiatan Di The Hill Sibolangit Jadi Beban APBD Kota Medan Di Saat Efisiensi Anggaran dan Rakyat Lagi Susah

Jumat, 10 Juli 2026 - 22:58 WIB

Efrin Lurah Aur Di Duga Di Lindungi Rico Waas, The Hill Sibolangit, Bersenang – Senang Di Atas Penderitaan Kepling Yang Di Pungli

Jumat, 10 Juli 2026 - 22:46 WIB

DPP SATU BETOR Menyerahkan Jum’at Barokah Ke Panti Asuhan AL-KAHFI

Tajuk Populer

Pasar Terminal Sibolga Nauli dilalap si jago merah pada malam hari ini. Asap tebal membumbung tinggi di langit malam (Dok-Poto)

Berita

Pasar Terminal Sibolga Dilalap Si Jago Merah 

Minggu, 12 Jul 2026 - 00:21 WIB