Hukum itu bernama sebab-akibat (Sunnatullah).
Allah tidak ingin memanjakan kita layaknya bayi yang terus disuapi. Dia ingin kita bergerak, mengeluarkan keringat dan menunjukkan kesungguhan. Dia ingin kita “menekan saklar” terlebih dahulu, baru kemudian Dia menyalakan “cahaya”-Nya.
Mari kita lihat buktinya pada kisah-kisah terdahulu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pertama, Tongkat Nabi Musa.
Bayangkan suasana mencekam di tepi Laut Merah. Debu berterbangan, suara derap kuda Firaun semakin dekat, dan aroma asin air laut memenuhi rongga hidung.
Dalam kepanikan itu, Allah memerintahkan: “Pukulkanlah tongkatmu ke laut itu.” (QS. Asy-Syu’ara: 63).
Secara fisika, apa hubungannya memukul air dengan membelah lautan? Nol besar. Pukulan tongkat kayu tidak akan mungkin memisahkan miliaran liter air.
Namun, poinnya bukan pada kekuatan pukulan itu.
Allah hanya meminta ketaatan. Pukulan tongkat itu adalah simbol ikhtiar 1% dari Musa. Seolah Allah berkata: ‘Musa, lakukan bagian kecilmu (memukul), sisanya biarkan Aku yang mengurusnya (membelah laut).
Kedua, pohon kurma maryam.
Bayangkan rasa sakit kontraksi melahirkan yang meremas perut, ditambah rasa lapar dan haus di tengah gurun yang panas menyengat. maryam sendirian dan lemah.
lalu perintah itu datang: “dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu…” (qs. maryam: 25).
Seorang atlet angkat besi pun mungkin kesulitan menggoyangkan pohon kurma yang kokoh agar buahnya jatuh, apalagi seorang wanita yang sedang kesakitan?
Sekali lagi, ini bukan soal tenaga.
Allah tidak butuh tenaga Maryam. Allah hanya ingin melihat tangan Maryam bergerak berusaha. Gerakan tangan yang lemah itu adalah ‘kode’ bahwa hamba-Nya tidak menyerah. Dan benar saja, kurma-kurma matang pun berjatuhan.
Ketiga, hentakan kaki Nabi Ayyub.
Bertahun-tahun kulitnya digerogoti penyakit, tubuhnya sulit digerakkan karena lumpuh. Namun untuk sembuh, Allah memerintahkan:
” Hentakkanlah kakimu…” (QS. Shaad: 42).
Logikanya, bagaimana hentakan kaki orang sakit bisa menggali mata air penyembuh? Tapi karena Nabi Ayyub percaya dan bergerak, air itu memancar dingin, membasuh seluruh luka di tubuhnya.
“Sahabat Sirah, inilah yang disebut rumus 1% vs 99%.”
Dalam hidup ini, pembagian kerjanya sangat jelas.
1% adalah bagian kita (Ikhtiar):
Mengetuk pintu, melamar kerja, meminum obat, belajar, memperbaiki kendaraan.
99% adalah bagian Allah (Hakikat):
Pintu terbuka, rezeki turun, kesembuhan datang, kecerdasan diraih.
Masalah terbesar kita hari ini adalah seringkali kita enggan mengerjakan yang 1%, tapi menuntut yang 99%.
Atau sebaliknya, kita merasa sombong karena sudah mengerjakan yang 1%, lalu mengira keberhasilan itu murni karena kehebatan kita, padahal itu adalah hadiah dari yang 99%.
Allah itu ibarat arus listrik besar yang sudah standby di rumah kita. Pertolongan-Nya sangat dekat.
Namun, lampu ruangan tidak akan menyala jika kita tidak mau berjalan ke dinding dan menekan saklarnya. Usaha kita baik itu doa, kerja, maupun belajar hanyalah aktivitas menekan saklar itu. Kecil, tapi vital.
Maka, jangan pernah meremehkan ikhtiar sekecil apa pun. Mungkin usahamu hari ini terlihat tidak logis, seperti memukul tongkat ke air. Tapi percayalah, Allah hanya menunggu kamu bergerak. Lakukan bagianmu yang satu persen, dan biarkan Allah menyempurnakan yang sembilan puluh sembilan persen dengan cara-Nya yang ajaib.****
Halaman : 1 2















