AMPIBI: Ancaman PHK Terhadap 55 ribu Buruh Bentuk Kegagalan Pemerintah Dalam Mengatasi KRISIS EKONOMI

- Jurnalis

Minggu, 28 Juni 2026 - 13:09 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🤝 Ayo Dukung Jurnalis Kritis dan Obyektif
+ Dukung

Majalahceo.id l Medan – Ancaman PHK terhadap 55.000 buruh terutama disebabkan oleh masalah struktural sektor industri, khususnya krisis lonjakan biaya gas industri dan hambatan perizinan.

Menanggapi situasi kritis ini, Aliansi Masyarakat Peduli Buruh Indonesia (AMPIBI) meminta Satgas Mitigasi PHK menyelamatkan sektor manufaktur dan meminta Dirut Pertamina untuk mencari solusi penyesuaian harga gas agar tetap kompetitif dan pabrik tidak tutup.

“Ancaman PHK Terhadap 55 ribu Buruh Bentuk Kegagalan Pemerintah Dalam Mengatasi KRISIS EKONOMI,” ungkap Johan Merdeka di dampingi Izhar Daulay, Awaluddin Pane, Rahmadsyah, Pingki, Minggu (28/6/2026)

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kabar yang disampaikan Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea, membuat banyak kalangan waswas. Di hadapan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Andi Gani mengungkap adanya potensi 55.000 buruh kehilangan pekerjaan dalam waktu maksimal 10 hari ke depan. Ia menyebut situasi tersebut sebagai kondisi yang sangat mengkhawatirkan dan membutuhkan perhatian serius dari pemerintah.

Ancaman itu berasal dari rencana penutupan dua pabrik di Bekasi, Jawa Barat, yang selama ini menjadi tempat bekerja ribuan anggota KSPSI. Salah satunya merupakan perusahaan produsen keramik yang mengalami tekanan berat akibat melonjaknya biaya energi. Kondisi ini dikhawatirkan memicu gelombang pengakhiran hubungan kerja yang lebih besar dan berdampak pada kehidupan puluhan ribu keluarga pekerja.

Tak hanya industri keramik, sektor tekstil juga disebut menghadapi tantangan serupa. Kenaikan biaya gas industri membuat beban produksi semakin berat sehingga mengancam keberlangsungan usaha. Andi Gani menegaskan bahwa hampir seluruh industri yang bergantung pada gas alam kini berada dalam posisi sulit. Jika tidak ada langkah cepat untuk menekan biaya energi, kekhawatiran terhadap bertambahnya jumlah pekerja yang terdampak diperkirakan akan semakin besar.

Aliansi Masyarakat Peduli Buruh Indonesia ( AMPIBI ) yang mana di Pengurusannya ada Johan Merdeka, Rahmat, Izhar Daulay, Pingki dan Awaluddin Pane sejak Januari 2026 sampai Juni 2026 dalam 6 ( enam ) bulan PHK di Sumatera Utara sudah cukup banyak.

Awaluddin Pane menjelaskan kepada Media Online “untuk kasus PKWT habis Kontrak nya dan Perusahan PHK karena Efesiensi sudah lebih 5 ( Lima ) ratus.”

Johan Merdeka disela sela kesibukannya masih peduli dengan Pekerja Buruh dan memberikan tanggapan sama dengan Awaluddin Pane

“Benar kata Bang Awaluddin Pane PHK untuk di Sumatera Utara ini begitu cukup banyak, Bahkan yang sangat miris lagi gaji guru honorer masih di bawah Upah Minimun Propinsi,” katanya.

AMPIBI akan selalu membuat gebrakan dengan Aksi-aksi Jalanan jika Pemerintah tidak memperhatikan nasib Anak Bangsa khususnya Pekerja Buruh dan Guru honorer.

Akar Permasalahan Utama Harga Gas Mahal:

Alokasi Gas Industri Tertentu (AGIT) yang didapat industri (seperti keramik) sangat terbatas, memaksa mereka membeli LNG regasifikasi yang harganya melonjak hingga USD 20,5 per MMBTU.

Krisis Bahan Baku: Adanya masalah pada Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang turut menekan aktivitas produksi dan mengancam ratusan ribu pekerja lainnya.

Follow WhatsApp Channel majalahceo.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

LINI MASA

Apresiasi Kepada Rommy Van Boy Anggota DPRD Medan Tindak Lanjuti Aspirasi Pedagang Kuliner Pagaruyung Little India Kampung Madras, Berikan Solusi Terbaik
UMKM Kuliner Pagaruyung, Merasa di Anak Tirikan, Bukannya Di Bina Malah Mau Di Binasakan, Tidak Pernah Di Undang Program Sapa Warga Rico Waas Di Kecamatan Medan Petisah
Legitimasi Satpol PP Kota Medan Di Pertanyakan, Tajam Kepada Kawasan Kuliner Pedagang Pagaruyung Di Little India Kampung Madras, Tumpul Ke Bangunan Tanpa PBG
Amran Pedagang Martabak India Muslim Sebut Jangan Gusur Kami, Puluhan Tahun Ida Waas Mamaknya Rico Waas Sering Belanja Ke Kawasan Kuliner Pagaruyung di Medan
Rencana Kerja Penetapan RKPDes Cimahi 2027, Susun Kegiatan Akhir Masa Jabatan Kepala Desa
Di Duga Abai K3, Disnaker Sumut Dan Dewan K3 Di Minta Periksa Asrama Bidan di Deli Serdang Terbakar, 2 Ruangan di Lantai 4 Hangus
Eks Pimpinan KPK Sebut Ada Peristiwa Pidana Di Lapas “Wah” Cibinong Dan Ada Upaya Penghilangan Barang Bukti
Melawan Lupa, Satpol PP Kota Medan Jangan Main Gusur, Kuliner Pagaruyung Sudah Sesuai Perda Kota Medan No.5 Tahun 2022 Tentang Penetapan Zonasi Aktivitas PKL

LINI MASA

Minggu, 4 Oktober 2026 - 15:48 WIB

Apresiasi Kepada Rommy Van Boy Anggota DPRD Medan Tindak Lanjuti Aspirasi Pedagang Kuliner Pagaruyung Little India Kampung Madras, Berikan Solusi Terbaik

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 20:10 WIB

UMKM Kuliner Pagaruyung, Merasa di Anak Tirikan, Bukannya Di Bina Malah Mau Di Binasakan, Tidak Pernah Di Undang Program Sapa Warga Rico Waas Di Kecamatan Medan Petisah

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 17:25 WIB

Legitimasi Satpol PP Kota Medan Di Pertanyakan, Tajam Kepada Kawasan Kuliner Pedagang Pagaruyung Di Little India Kampung Madras, Tumpul Ke Bangunan Tanpa PBG

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 07:31 WIB

Amran Pedagang Martabak India Muslim Sebut Jangan Gusur Kami, Puluhan Tahun Ida Waas Mamaknya Rico Waas Sering Belanja Ke Kawasan Kuliner Pagaruyung di Medan

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 07:19 WIB

Rencana Kerja Penetapan RKPDes Cimahi 2027, Susun Kegiatan Akhir Masa Jabatan Kepala Desa

TAJUK HARI INI