MAJALAH CEO | BANTEN – Langit di atas perairan Selat Sunda tampak cerah namun menyimpan kekhawatiran mendalam. Memasuki hari keempat sejak hilangnya kontak rombongan yang terdiri dari lima jurnalis dan tiga awak kapal, Tim SAR Gabungan terus memperlebar sayap penelusuran. Wilayah pencarian kini mencakup 3.243 mil laut, terbagi menjadi empat sektor utama dan satu sektor khusus di sekitar perairan yang diduga menjadi titik terakhir keberadaan mereka. 12/9/2026
Rombongan berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Banten, pada Senin sore, 7 September pukul 14.00 WIB dengan misi meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau. Sekitar 42 menit kemudian, mereka sempat mengirimkan titik lokasi terkini kepada rekan sejawat di Lampung — itulah pesan terakhir yang diterima. Komunikasi terputus secara tiba-tiba sekitar pukul 15.04 WIB tanpa ada tanda-tanda kegawatdaruratan sebelumnya.
Mereka yang kini dicari adalah:
- Warta (55 tahun), kapten kapal yang berpengalaman melintasi perairan tersebut
- Surakman (60 tahun), awak kapal yang telah puluhan tahun mengarungi Selat Sunda
- Heriyanto (49 tahun), pemandu yang menguasai seluk-beluk kawasan vulkanik
- M. Bagus Khoirunnas (28 tahun), jurnalis muda dari Antara yang dikenal tekun meliput isu bencana alam
- Ari Basuki (52 tahun), wartawan senior Harian Merdeka dengan puluhan tahun pengalaman liputan lapangan
- Yudhis, jurnalis dari iNews
- Daus (42 tahun), jurnalis dari kantor berita Anadolu
- Donal, jurnalis lepas yang kerap mengabadikan momen-momen penting di kawasan tersebut
Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad menjelaskan perluasan area didasarkan pada evaluasi menyeluruh hasil pencarian hari-hari sebelumnya. “Setiap mil laut yang kami telusuri adalah bentuk keseriusan kami. Tidak ada satu titik pun yang kami lewatkan,” ujarnya.
Puluhan sarana penunjang dikerahkan: mulai dari KN SAR Tetuka 247, KRI Leuser, KRI Karambit, KP Sanjaya, hingga kapal-kapal pendukung dari daerah. Dua drone berkemampuan deteksi panas tubuh kini ikut terbang di atas perairan, mampu menembus kabut dan melihat tanda-tanda keberadaan manusia dari ketinggian — alat yang diharapkan mengubah arah pencarian.
Kondisi alam memberikan sedikit harapan: cuaca diperkirakan cerah hingga berawan, angin berhembus dari tenggara ke selatan dengan kecepatan 10–20 knot, dan gelombang setinggi 0,5–2,5 meter. Meski demikian, tim tetap waspada — perairan di sekitar gunung berapi yang masih aktif ini dapat berubah dengan cepat.
Pencarian melibatkan ratusan orang dari Basarnas, TNI Angkatan Laut, Kepolisian, BPBD, tenaga kesehatan, tim psikolog, Tagana, Baznas, Rumah Zakat, hingga warga dan relawan yang datang secara sukarela.
Doa menyertai pencarian
Sementara di Jakarta, suasana haru menyelimuti kawasan Bundaran HI pada Jumat malam. Puluhan anggota Pewarta Foto Indonesia Jakarta (PFIJ) berkumpul seusai Maghrib, mengangkat tangan memohon keselamatan bagi rekan-rekan mereka yang masih hilang di tengah laut. Banyak yang meneteskan air mata — bukan hanya rekan kerja, melainkan sahabat yang kerap berbagi cerita di balik lensa kamera.
“Kami tidak akan berhenti mencari. Setiap perkembangan di lapangan akan dievaluasi, dan langkah berikutnya segera ditentukan,” tegas Al Amrad. Hingga saat ini, belum ada tanda pasti keberadaan kedelapan orang tersebut, namun harapan belum padam.***
















Komentar
Silakan login untuk berkomentar.