Nadiem Makarim Dapat Keringanan! Hukuman Dipangkas Jadi 9 Tahun, Ada Hakim yang Ingin Bebaskan

- Reporter

Kamis, 24 September 2026 - 17:23 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🤝 Ayo Dukung Wartawan Kritis dan Obyektif
+ Dukung

Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menjatuhkan hukuman 9 tahun penjara kepada Nadiem. (Dok-Foto)

Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menjatuhkan hukuman 9 tahun penjara kepada Nadiem. (Dok-Foto)

MAJALAHCEO | JAKARTA – Pengadilan Tinggi DKI Jakarta memutuskan untuk memangkas hukuman mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim, dalam perkara korupsi pengadaan laptop Chromebook dan layanan Chrome Device Management untuk tahun anggaran 2020 hingga 2022. Putusan tersebut dibacakan pada Kamis, 24 September 2026.

Dalam putusan tingkat pertama, Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menjatuhkan hukuman 10 tahun penjara kepada Nadiem. Namun, di tingkat banding, majelis hakim memutuskan untuk meringankan vonis tersebut menjadi 9 tahun penjara. Selain itu, denda yang ditetapkan tetap sebesar Rp1 miliar, dengan masa penggantian kurungan dipangkas dari 190 hari menjadi 140 hari jika denda tersebut tidak dibayarkan.

Besaran uang pengganti yang wajib dibayarkan juga mengalami penurunan signifikan, dari yang sebelumnya ditetapkan sebesar Rp809,5 miliar menjadi Rp548,76 miliar. Apabila uang pengganti tersebut tidak dilunasi, maka diganti dengan pidana kurungan selama 6 tahun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketua majelis hakim, Subachan Hardi Mulyana, menyatakan bahwa Nadiem tetap dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi yang dilakukan secara bersama-sama sesuai dengan dakwaan subsidair jaksa penuntut umum.

Putusan ini ternyata tidak diambil dengan keputusan bulat. Salah satu hakim anggota, Andi Saputra, menyampaikan pendapat yang berbeda. Menurut Andi, Nadiem seharusnya dibebaskan dari seluruh tuduhan karena ia menilai tidak ada bukti yang cukup menunjukkan adanya kerugian terhadap keuangan negara.

Hingga saat ini, belum ada informasi resmi apakah pihak jaksa maupun pihak terdakwa akan mengajukan upaya hukum selanjutnya ke Mahkamah Agung. Kasus ini terus menjadi sorotan publik karena melibatkan mantan pejabat tinggi negara dan menyangkut program pendidikan yang penting bagi masyarakat Indonesia.***

"Follow WhatsApp Channel majalahceo.id untuk update berita terbaru setiap hari" "Follow"

LINI MASA

Bareskrim Tetapkan Tiga Jenderal Tersangka Penyadapan Prabowo, Publik Minta Proses Transparan
Jokowi Dijadwalkan Hadir Bersaksi di Sidang Roy Suryo pada 5 November 2026, Jaksa Panggil Juga Ajudannya
KPK Geledah Bea Cukai Kudus dan PT Djarum, Dalami Dugaan Penyimpangan Pita Cukai Rokok
Sosialisasi UU Pelindungan Tenaga Kerja dan Validasi Data Desil Bansos Jadi Perhatian Komisi IX DPR RI
RUU Perampasan Aset Dikebut DPR, Puluhan Masukan Diserap agar Tidak Disalahgunakan
Bahlil Bidik Pasokan BBM dari China, Pengamat: Perdagangan Energi Bilateral Berpotensi Menguat
Indonesia Siap Luncurkan Bensin E10 Tahun 2027, Pemerintah Siapkan 11 Pabrik Etanol Baru
Laksamana Widodo AS, Panglima TNI Pertama dari Angkatan Laut, Berpulang di Usia 82 Tahun

LINI MASA

Rabu, 4 November 2026 - 10:02 WIB

Bareskrim Tetapkan Tiga Jenderal Tersangka Penyadapan Prabowo, Publik Minta Proses Transparan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 08:32 WIB

Jokowi Dijadwalkan Hadir Bersaksi di Sidang Roy Suryo pada 5 November 2026, Jaksa Panggil Juga Ajudannya

Rabu, 28 Oktober 2026 - 17:27 WIB

KPK Geledah Bea Cukai Kudus dan PT Djarum, Dalami Dugaan Penyimpangan Pita Cukai Rokok

Rabu, 28 Oktober 2026 - 15:23 WIB

Sosialisasi UU Pelindungan Tenaga Kerja dan Validasi Data Desil Bansos Jadi Perhatian Komisi IX DPR RI

Rabu, 28 Oktober 2026 - 11:37 WIB

RUU Perampasan Aset Dikebut DPR, Puluhan Masukan Diserap agar Tidak Disalahgunakan

TAJUK HARI INI