MAJALAHCEO | JAKARTA – Raksasa teknologi asal Amerika Serikat, Nvidia, resmi berencana menanamkan investasi senilai US$4,5 miliar atau setara Rp80,33 triliun di Indonesia. Investasi fantastis ini akan ditempatkan di Kawasan Ekonomi Khusus Batam, Kepulauan Riau, dengan fokus utama pada pembangunan pusat data serta pengembangan industri semikonduktor.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa pihak Nvidia telah membahas langsung rencana investasi tersebut di Batam. Langkah ini sejalan dengan strategi pemerintah untuk memperkuat infrastruktur digital dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
“Mereka berencana menanamkan modal sebesar US$4,5 miliar di kawasan ekonomi khusus yang telah kita siapkan,” ujar Airlangga dalam acara Antara Business Forum di Jakarta, Kamis, (24/9/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Batam dipilih karena memiliki sejumlah keunggulan kompetitif dibandingkan negara lain di kawasan ASEAN, antara lain ketersediaan lahan yang memadai, pasokan listrik yang andal, akses energi hijau, serta ketersediaan sumber daya air. Faktor-faktor ini menjadikan Batam lokasi strategis untuk pengembangan infrastruktur digital berskala besar.
Kebutuhan akan pusat data terus meningkat tajam seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan. Saat ini, kapasitas pusat data nasional berada di kisaran 800 megawatt dan diproyeksikan meningkat menjadi 1,3 gigawatt seiring dengan berjalannya berbagai proyek yang telah masuk dalam perencanaan pemerintah.
Nilai ekonomi digital Indonesia saat ini mencapai sekitar US$180 miliar dan diproyeksikan melonjak menjadi US$400 miliar pada tahun 2030. Investasi Nvidia diharapkan menjadi pendorong utama pertumbuhan sektor ini, sekaligus menempatkan Indonesia bukan hanya sebagai pasar pengguna teknologi, tetapi juga sebagai pusat infrastruktur digital di kawasan ASEAN.
“Pengembangan ekonomi digital ini adalah sektor yang harus kita dorong. Kuncinya saat ini ada pada industri semikonduktor dan pusat data, dan sektor ini tidak terlalu bergantung pada gejolak perdagangan maupun kondisi geopolitik global,” tegas Airlangga.***
















Komentar